Pneumokokus, Penyebab Utama Kematian Bayi dan Balita

Kompas.com - 29/04/2008, 21:11 WIB

ANGKA kematian bayi di Indonesia sangat tinggi. Bahkan di seluruh dunia, Indonesia menduduki rangking keenam dengan angka sekitar 6 juta bayi yang mati. Urutan pertama India dengan angka kematian 44 juta, kedua China dengan angka kematian 18 juta, ketiga Nigeria dengan angka kematian 7 juta, dan kelima Bangladesh dengan angka kematian 6 juta bayi.

Kasus kematian bayi di Indonesia ini, menurut Dr. Soedjatmiko, Sp A (K), M.Si disebabkan oleh Invassive Pneumococcus Disease (IPD). Ini adalah sekelompok penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini memiliki 90 tipe kuman. Yang paling sering menyebabkan IPD adalah ke-7 serotipe yang normalnya berada di daerah hidung dan tenggorokan dan cepat menyebar melalui darah dan paling banyak menyerang bayi dan balita dibawah usia 2 tahun.

Spesialis anak, Konsultan Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial ini di Jakarta, Selasa (29/4) mengatakan, meski bakteri ini ada di rongga hidung dan tenggorokan semua orang, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Kelompok yang paling rentan dengan penyakit ini adalah bayi usia di bawah 2 tahun. Ini akibat dari belum sempurnanya daya tahan tubuh bayi seperti pada anak-anak diatas 5 tahun atau orang dewasa.

Polusi seperti lingkungan asap rokok, lahir prematur, tidak mendapatkan ASI, hunian yang padat, dan pergantian cuaca merupakan faktor-faktor risiko yang patut diwaspadai para orangtua, kata Soedjatmiko. Biasanya bayi-bayi yang sudah terserang IPD bakal rewel. Ini terjadi akibat demam, sesak napas, nyeri yang terjadi saat bernapas, mual dan muntah.

Penyakit ini cukup membahayakan karena mematikan. Mudah menular melalui percikan ludah sat bersin, batuk, atau bicara. Karena itu, sebagai pencegahan, sebaiknya sejak dini, saat bayi berusia dua bulan perlu diberi vaksinasi. Vaksinasi merupakan upaya preventif terbaik mengingat besarnya angka morbiditas akibat infeksi pneumokokus, terutama golongan IPD.

Saat ini vaksin pneumokokus konjugasi yang terdiri dari 7 serotipe (PCV-7) telah menjadi vaksin yang diwajibkan di AS, Australia, Eropa dan Mexico serta telah digunakan lebih dari 130 juta dosis di seluruh dunia. Vaksin ini telah diluncurkan di beberapa negara Asia seperti Honkong, Taiwan, Filipina, Singapura, Malaysia (2005), Indonesia, Pakistan, Thailand, dan India (2006).

Jadual Pemberian vaksin PCV-7 :
1. Usia di bawah 12 bulan diberi 4 dosis, yakni pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan booster pada usia 12-15 bulan.
2. Usia 7 - 11 bulan diberi 3 dosis, 2 dosis pertama dengan interval 4 minggu, dosis ketiga diberikan setelah usia 12 bulan.
3. Usia 12 - 23 cukup diberi 2 dosis dengan interval 2 bulan.
4. Usia 2 tahun ke atas cukup diberi 1 dosis saja.

Antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi lengkap dapat bertahan seumur hidup karena vaksin ini dapat merangsang pembentukan memori di dalam tubuh.

C5-08

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau