Kita semua tentu telah memahami bahwa kendaraan dengan mesin hibrida (hybrid) lebih ramah terhadap lingkungan. Tapi, mungkinkah di tengah "keramahan" terhadap lingkungan, mesin-mesin jenis ini justru berbahaya untuk kesehatan pengendara? Bahkan dapat mendatangkan kanker yang mematikan?
Ketika pertanyaan itu terdengar konyol bagi orang awam, justru sejumlah peneliti memiliki legitimasi dalam menyampaikan pertanyaan itu. Kemungkinan tersebut didasari pada pemahaman bahwa mesin yang digerakkan dengan full electric tersebut justru menyalurkan atau memancarkan gelombang elektromagnetik.
Nah, gelombang elektromagnetik itulah yang diduga berpotensi melahirkan risiko bagi kesehatan pengguna kendaraan itu. Jadi pertanyaan lugasnya adalah: Akankah mesin hibrida menyalurkan gelombang elektromagnetik yang cukup besar dan bisa mendatangkan dampak negatif bagi mereka yang berada di dalam mobil?
Saat ini, manusia sesungguhnya sudah dibombardir dengan pancaran gelombang serupa yang datang dari telepon selular atau lampu bohlam, misalnya. Untuk itu, di Amerika Serikat telah ada batasan-batasan untuk level pancaran gelombang tersebut. Tapi, sejumlah organisasi lain, macam the National Institutes of Health dan the National Cancer Institute, mendapati bahwa serapan gelombang elektromagnetik yang didapat manusia untuk jangka panjang berpotensi menyebabkan kanker.
Namun, seperti diberitakan dalam New York Times, sekalipun kesadaran bahwa risiko tersebut ada di depan mata, tetap belum diperoleh fakta yang membuktikan hubungan sebuah kanker disebabkan akibat pancaran gelombang elektromagnetik. Dengan demikian, masih diperlukan penelitian lebih jauh atas "tuduhan" tersebut. "Mungkin saja kesimpulan bahwa mesin hibrida dapat menyebabkan kanker masih sangat sumir. Sangat diperlukan penelitian lanjutan atas hal ini, dan kami akan melakukannya," ungkap Jim Kliesch, teknisi utama untuk program "clean vehicle" pada the Union on Concerned Scientists. (LEFTLANE/GLO)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang