Laporan Tjahja Gunawan Diredja
KUWAIT, KAMIS - Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kuwait dan Bahrain, saat ini menampung sebanyak 150 Tenaga Kerja Indonesia bermasalah. Mereka umumnya tenaga kerja wanita yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT), namun karena bekerja terlalu keras dan sebagian majikan melakukan aksi kekerasan, mereka terpaksa lari ke KBRI Kuwait di daerah Kaefan, Al-Andalus Kuwait.
Hal itu disampaikan Duta Besar RI untuk Kuwait dan Bahrain, Faisal Ismail, pada jamuan makan bersama para delegasi Indonesia pada pertemuan Forum Ekonomi Islam Dunia (World Economic Islamic Forum) ke-4, Kamis malam (30/4) waktu Kuwait.
Delegasi Indonesia dipimpin Irman Gusman didampingi Menteri Negara BUMN Sofyan A. Djalil, Utusan Khusus Presiden RI untuk Wilayah Timur Tengah Alwi Shihab.
PRT disini umumnya bekerja sejak mulai bangun sampai tidur sementara beban pekerjaan mereka sangat berat apalagi di para majikan Kuwait umumnya mempunyai keluarga yang besar.
Tidak hanya itu, kalau majikan keluar rumah, adakalanya PRT tidak boleh ikut dan harus tinggal di rumah. Bahkan sebagian pembantu ada yang sengaja dikunci oleh majikannnya di dalam rumah, ungkap Faisal Ismail.
Menurut Faisal, para TKW itu sebagian besar bekerja terlalu berat sehingga banyak yang terpaksa melarikan diri dari majikannya. Saat ini jumlah warga negari Indonesia di Kuwait sebanyak 60.000 orang. Dari jumlah itu, 80 persen bekerja sebagai PRT sisanya bekerja sebagai tena kerja terampil. TKW bermasalah beragam, mulai dari perlakuan majikan yang jelek, hingga gaji mereka yang tidak dibayar.
Gaji PRT di Kuwait umumnya dibawah Rp 2 juta per bulan atau antara 40 dinar kuwait (KD-Kuwait Dinar) hingga 50 KD. (1 KD = Rp 34.000). Untuk mengurangi persolan TKW di Kuwait, Faisal Ismail menyarankan, agar proses rekurtmen di Indonesia perlu dibenahi. Rekrutmen hendaknya bisa dilakukan secara lebih selektif dan diutamakan bagi mereka yang telah memiliki keahlian khusus, ujarnya.
Sementara itu Bambang Heru, warga Indonesia yang bekerja di maskapai Kuwait Airways, mengatakan ada juga PRT yang mendapat perlakuan yang baik dari majikan mereka. Saya pernah mendapati ada PRT yang bekerja di keluarga kerajaan Kuwait, lalu pulang ke Indonesia menggunakan pesawat Kuwait Airways dan duduk di kelas utama. Bahkan mereka sempat diantar ke pesawat langsung oleh majikannya, ujarnya.
Sementara ongkos pesawat pulang pergi Indonesia-Kuwait dengan menggunakan Kuwait Airways di first class sekitar 700 KD atau sekitar Rp 23.800.000. Tapi PRT yang diperlakukan demikian tidak banyak. Sebagian besar PRT kita di Kuwait bermasalah. Bahkan ada yang cedera akibat melarikan diri dari rumah majikan mereka, ujar Bambang Heru. (gun)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang