May Day Lancar

Kompas.com - 01/05/2008, 17:29 WIB

JAKARTA, KAMIS - Langkah antisipasi Polda Metro Jaya untuk menyiapkan pengamanan May Day berhasil. Meski hari Kamis (1/5) ini Jakarta dikepung oleh ribuan buruh yang datang dari berbagai penjuru, namun semua bisa berjalan dengan aman. Tidak ada kerusuhan ataupun insiden yang berarti dalam peringatan May Day.

Meski jumlah aparat keamanan yang disiapkan Polda Metro Jaya untuk pengamanan May Day mencapai 15 ribu orang sejumlah gedung perkantoran dan perbelanjaan di sepanjang Jalan Thamrin Jakarta memperketat penjagaan. Di depan gedung, tampak sejumlah petugas berjaga, meski pagar gedung tersebut tertutup rapat. "Buat jaga-jaga saja mbak. Takutnya ada apa-apa, kan banyak nih yang demo," ujar salah satu petugas keamanan.

Jumlah aparat sebanyak itu merupakan gabungan dari Polda Metro Jaya, pasukan back up dari TNI dan ditambah Trantib. Pantaun di beberapa titik konsentrasi massa yang tengah memperingati hari buruh sedunia ini, berjalan tertib dan aman. Seperti bundaran Hotel Indonesia, depan istana, dan seputar Monas, tidak ada insiden yang menonjol.

Konsentrasi jumlah aparat keamanan juga terlihat di berbagai sudut kota dan di titik-titik konsentrasi massa. Perangkat pengamanan massa seperti kawat berduri dan water canon telah disiapkan di sejumlah titik di Ibukota sejak pagi.  Sejak pukul 09.00, sebuah helikopter berlalu lalang di seputar Senayan, Bunderan Hotel Indonesia, dan Istana untuk mengamati situasi pada Mayday yang jatuh tepat pada 1 Mei ini. Namun, kehadiran helikopter tersebut di luar kehendak para buruh yang sedang memeringati harinya itu.
 
Setiap helikopter tersebut melewati ribuan massa yang berada di sekitar Bunderan HI, terdengar teriakan menyoraki keberadaan 'capung' raksasa itu. "Huuuuu... Hooooo...." bunyi teriakannya. Teriakan ini terus terdengar saat helikopter tersebut melintas, meski koordinator massa sudah menyarankan untuk tidak mengindahkannya. "Sudah kawan-kawan, jangan dipedulikan. Tugas kita berjuang melawan neoliberalism hari ini," ujar pria berambut gondrong yang menjadi koordinator aksi tersebut.

Khusus untuk pengamanan di depan istana negara, sekitar 1.500 polisi dikerahkan. Sementara sekitar 3.000 lainya disebar diseputaran Monas untuk mengamankan objek-objek vital seperti Indosat, gedung-gedung pemerintahan yang ada di seputar monas, serta Kedubes AS. Dengan demikian jumlah pasukan pengamanan yang ada di sekitar monas sudah lebih dari 4.000 orang. Di luar itu, masih ada polisi lalu lintas yang hilir mudik mengatur arus lalulintas.

Sementara berdasarkan informasi dari Direktorat Intelkam Polda ke Traffic Management Centre (TMC), konsentrasi massa itu terjadi dibeberapa titik:

Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan Jakarta Pusat; Kantor Jamsostek di Jl.Gatot Subroto Jaksel; Gd.DPR /MPR Jl.Jend Gatot Subroto Jakpus dan Stadion Utama Senayan Jakpus; Depan Istana Negara Jl.Merdeka Utara Jakpus; lapangan Banteng Jakpus; Tugu Proklamasi Jl.Proklamasi Jakpus; Bundaran HI Jl.MH Thamrin Jakpus. (persda network/sugiyarto)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau