Tangkapan Berkurang, Nelayan Teri Nasi Tak Melaut di Tegal

Kompas.com - 03/05/2008, 19:50 WIB

SLAWI, SABTU - Ratusan nelayan pencari teri nasi di Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal terpaksa tidak melaut, akibat sedikitnya hasil tangkapan. Padahal, mereka harus terus memenuhi kebutuhan hidup. Saat ini, para nelayan mulai mengalami krisis pangan.

Ketua Kelompok Nelayan Teri Nasi Desa Munjung Agung, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Kasan (37) mengatakan, kondisi nelayan pencari teri nasi sedang terpuruk. Dari hasil melaut mulai pukul 05.00 hingga 12.00, mereka hanya mendapatkan hasil lelang antara Rp 80.000 hingga Rp 100.000.

Padahal biaya perbekalan mencapai Rp 80.000 sekali melaut. Nelayan pencari teri nasi melaut menggunakan kapal sopek, dengan jumlah anak buah kapal (ABK) 10 orang. Menurut Kasan, sedikitnya hasil tangkapan teri nasi akibat pengaruh musim. Biasanya, tangkapan teri nasi nasi menurun pada bulan April hingga Mei, dan melimpah pada bulan November hingga Januari.

Meski demikian, hasil tangkapan pada tahun ini jauh lebih sedikit bila dibandingkan tahun lalu. Pada bulan yang sama tahun lalu, nelayan masih mendapatkan hasil lelang sekitar Rp 200.000 hingga Rp 300.000 sekali melaut. Pada bulan November hingga Januari, hasil tangkapan mencapai Rp 500.000 hingga Rp 1 juta sekali melaut.

Diperkirakan, kondisi itu akibat semakin berkurangnya populasi ikan. Hal itu sebagai dampak dari pemakaian jaring yang tidak ramah lingkungan, seperti jaring trol.

Saat ini, dari 135 kapal sopek yang ada di Kecamatan Kramat, lebih dari 100 kapal tidak dioperasikan. Akibatnya, nelayan tidak memiliki penghasilan. Mereka terpaksa hidup dari menghutang. Sebagian lainnya bekerja serabutan.

Warjo (40), nelayan di Desa Munjung Agung, Kecamatan Larangan mengaku sudah tidak melaut selama sepekan terakhir. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia terpaksa mencari rajungan di pinggir pantai, dengan hasil sekitar Rp 20.000 per hari.

Penghasilan itu tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Terlebih saat ini, harga kebutuhan pokok melonjak. Ia dan keluarganya mengaku terpaksa makan seadanya.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Tegal, Warnadi mengatakan, akibatnya tidak melaut, nelayan mengalami krisis pangan. Sebagian d ari mereka rela berbuat apa saja, agar tetap bertahan hidup. Mereka juga memanfaatkan jaring tidak ramah lingkungan, agar tetap mendapatkan tangkapan ikan.

Menurut dia, kondisi itu sering dimanfaatkan oleh tengkulak untuk menjerat nelayan. Mereka meminjamkan uang, dengan syarat hasil penjualan ikan harus diberikan kepada mereka.

Oleh karena itu, pemerintah harus lebih arif dalam menentukan kebijakan. Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak seharusnya tidak dilaksanakan. Keterpurukan nelayan dimulai da ri kenaikan harga BBM tahun 2005 lalu. "Saat ini para nelayan sudah nekat, apabila harga BBM kembali dinaikkan, nelayan akan semakin nekat, " ujar Warnadi.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau