JAKARTA, SENIN - Pekan ini Bursa Efek Indonesia kembali berharap pada sentimen bursa global, selain menunggu kebijakan BI Rate, setelah pekan lalu berhasil lolos dari ancaman inflasi. Dalam sepekan, Indeks Harga Saham Gabungan meningkat lebih dari 100 poin.
Pekan lalu, IHSG melonjak 4,26 persen ke level 2.342,76 dari posisi pekan sebelumnya di 2.240,578. Demikian juga indeks Kompas100 meningkat 28,632 poin atau 4,88 persen menjadi 587,046 dibanding penutupan 25 April pada 558,414. Indeks LQ45 naik 26,206 poin (5,20 persen) ke posisi 503,807 dari penutupan sebelumnya di level 477,601.
Angka inflasi April yang mencapai 0,57 persen dianggap sesuai perkiraan pasar. Menurut Analis Riset PT Valbury Asia Securities Krisna Dwi Setiawan, seperti dikutip Antara, angka inflasi sesuai dengan ekspektasi pasar sehingga mendorong indeks cukup tinggi. Menurutnya, dengan angka inflasi yang sesuai prediksi ini telah mendorong beberapa saham, terutama sektor perbankan, otomotif, dan properti. Dengan inflasi tersebut, lanjut Krisna, telah memperkuat sentimen positif global, yakni keputusan bank sentral AS, Federal Reserve, yang kembali menurunkan suku bunganya sebesar 25 basis.
Pekan ini, dari dalam negeri pasar menunggu kebijakan Bank Indonesia terhadap BI Rate, seiring dengan angka inflasi yang pada tahun kalender sudah mencapai 4,01 persen. Asumsi inflasi dalam APBNP 2008 ditetapkan sebesar 6,5 persen.
Sementara di bursa Amerika Serikat, Wall Street pekan ini diperkirakan bisa kembali menguat jika data ekonomi AS menunjukkan pelambanan ekonomi yang tidak sedahsyat yang diperkirakan. Laporan data ekonomi yang akan keluar pekan ini, antara lain dari sektor jasa, perumahan, dan produksi. Selain itu, pasar juga menanti pidato Ketua the Fed Ben Bernanke mengenai kredit perumahan. Investor juga masih menanti laporan kinerja emiten, seperti Cisco, Fannie Mae, DR Horton Inc, WaltDisney Co, dan American International Group. "Masih diperlukan bukti lebih lanjut, baik data ekonomi maupun laporan keuangan yang terus menguat untuk dapat naik lagi ke level yang siginifikan," kata Michael James, senior trader di regional investment bank Wedbush Morgan Los Angeles, seperti dikutip Reuters.
Beberapa data ekonomi pekan lalu, termasuk data upah April, berhasil menggerus kekhawatiran pasar terhadap perekonomian AS. Pasar juga didorong oleh pemangkasan suku bunga the Fed serta turunnya harga komoditas seiring dengan menguatnya dollar AS.
Pekan lalu, indeks Dow Jones Industrial Average berhasil menembus level psikologis 13.000 dan indeks Standard & Poor's 500 melewati level 1.400. Pada penutupan Jumat (2/5), Dow Jones naik 48,20 poin (0,37 persen) ke 13.058,20. Indeks S&P 500 menguat 4,56 poin (0,32 persen) menjadi 1.413,90, sedangkan indeks Nasdaq turun 3,72 poin (0,15 persen) ke 2.476,99. Secara keseluruhan, pekan lalu Dow Jones naik 1,29 persen, Nasdaq menguat 2,23 persen, dan S&P 500 naik 1,15 persen.
Sementara di Hong Kong, pekan ini dikhawatirkan akan terjadi koreksi setelah pada pekan lalu indeks Hang Seng meloncat 724,24 poin (2,8 persen) ke posisi 26.241,02. Menurut Peter Lai, sales director DBS Vicker seperti dikutip AFP, peningkatan indeks lebih dari 3000 poin dalam beberapa pekan terakhir, menyebabkan beberapa harga saham overprice.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang