SHENZHEN, SENIN - Pemerintah China dan utusan pemimpin sprituil Tibet di pengasingan Dalai Lama menyepakati dilangsungkannya perundingan babak kedua. Kesepakatan ini dipandang oleh beberapa pengamat sebagai isyarat perkembangan upaya China meredakan ketegangan yang timbul akibat aksi kerusuhan antipemerintah Beijing di Tibet.
Perwakilan pemerintah China dalam pertemuan tahap pertama Minggu (4/5) dengan utusan Dalai Lama menerangkan sejumlah unjuk rasa telah mengakibatkan timbulnya tantangan baru terhadap komunikasi kedua belah pihak. Kritik internasional diarahkan ke taktik China dalam mengendalikan situasi keamanan pada kerusuhan antipemerintah dan unjuk rasa di Tibet dan wilayah Tibet lainnya di China bagian barat.
Perundingan tahap pertama yang berlangsung di kota Shenzhen, dekat Hong Kong, berakhir tanpa ada pihak yang menyampaikan keterangan kepada wartawan asing. Perwakilan Dalai Lama dan pemerintah China menyepakati perundingan babak kedua pada jadwal yang belum ditentukan.
Dalai Lama telah berulangkali menekankan tidak berada di balik aksi kerusuhan belakangan. Utusan Dalai Lama berencana meminta China penjelasan terhadap tudingan yang diarahkan ke Dalai Lama sebagai dalang kerusuhan di Tibet menjelang pelaksanaan Olimpiade pada Agustus 2008.
Pemerintah China menerangkan 22 orang tewas dalam aksi kekerasan di ibukota Tibet, Lhasa, Maret lalu. Sementara pendukung kemerdekaan Tibet di luar negeri menjelaskan terdapat sejumlah besar korban tewas dalam beberapa unjuk rasa dan penertiban yang diberlakukan oleh pemerintah China.
Dalai Lama yang melarikan diri dari Tibet saat gagal memimpin gerakan antipemerintah pada tahun 1959 telah menerangkan misinya yang lebih difokuskan pada perjuangan otonomi penuh bagi Tibet ketimbang kemerdekaan dari pemerintah China.