Sudahlah, Bahasa Indonesia Tak Usah di-UN-kan

Kompas.com - 05/05/2008, 10:57 WIB

JAKARTA, SENIN - Menjadi sesuatu yang menarik ketika bahasa ibu, bahasa Indonesia, justru dikeluhkan siswa ketika diujikan dalam ujian nasional. Terbiasa mengucapkannya sehari-hari belum tentu menjadi jaminan akan mudah ketika diteorikan.

Pengurus Majelis Luhur Taman Siswa Darmaningtyas mengatakan, kebijakan menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu materi UN harus dikaji ulang. Sebab, menurut dia, bahasa adalah alat komunikasi. Sebagai alat komunikasi, yang terpenting adalah praktik agar bahasa yang digunakan siswa dapat dipahami orang lain."Saya bilang, sebetulnya baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris itu alat komunikasi. Alat komunikasi tidak usah diujiankan atau di-UN-kan. Tapi sebaiknya lebih dipraktikkan. Misalnya bikin pidato atau karangan, berbicara di depan publik karena bahasa itu kan untuk berkomunikasi. Yang perlu ditekankan pada siswa, bagaimana bahasa yang dia gunakan itu bisa dipahami orang lain," papar Darmaningtyas kepada Kompas.com, Senin (5/5).

Keluhan yang datang dari siswa mengenai sulitnya ujian Bahasa Indonesia, lanjut dosen Filsafat UGM itu, disebabkan adanya ketidaksambungan antara pembuat soal dan guru-guru yang mengajar Bahasa Indonesia. Maksudnya, para guru sesuai kurikulum lebih banyak mengajarkan tentang tata bahasa. Sementara, yang selalu menjadi keluhan siswa adalah materi mengenai pemahaman bacaan.

"Ada dua yang harus diperhatikan. Kurikulum Bahasa Indonesia harus dikaji lagi dalam metode pembelajaran. Kesulitan terbesar siswa adalah pada pemahaman bacaan. Ini arahnya ke pelajaran sastra, tidak nyambung dengan pelajaran di sekolah yang lebih menekankan ke tata bahasa," ujar Darmaningtyas.Hal ini terjadi karena pembuat soal adalah pakar bahasa Indonesia yang tidak memahami perkembangan kurikulum dan materi yang diajarkan di sekolah saat ini.

"Solusinya, ya guru-guru Bahasa Indonesia yang masih aktif itu harus lebih banyak dilibatkan dalam pembuatan soal," ungkapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau