Gus Dur, Tokoh Nasional yang Sedang Berurusan dengan Masalah 'Lokal'

Kompas.com - 05/05/2008, 16:59 WIB

JAKARTA, SENIN - Konflik di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa seakan tak pernah habis. Masing-masing kubu (baik kubu Gus Dur maupun Muhaimin Iskandar) mengklaim kubu mereka paling benar. Muktamar luar biasa hingga gugatan ke pengadilan pun dilayangkan.

Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar dan Gus Dur adalah dua tokoh sentral dari dua kubu yang sedang bersitegang. Khusus Gus Dur, tantangan untuk menyelesaikan persoalan sebelum ajang Pilpres 2009 berlangsung menjadi tantangan terbesar yang dihadapinya saat ini. Kalau ingin dicalonkan lagi sebagai presiden, sosok penuh kontroversi ini perlu segera mungkin mengatasi persoalan itu.

Bagi seorang Gus Dur, harusnya hal itu bukan hal yang mustahil. Pasalnya, mantan Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB Kubu Muhaimin ini pernah menangani "perkara" yang lebih besar dan luas, yakni saat menjabat orang nomor satu di Indonesia (presiden).

Guyonan pun datang dari salah satu pengamat politik J Kristiadi saat hadir sebagai pembahas hasil survei yang dilakukan salah satu lembaga riset. "Gus Dur, tokoh besar urus barang sekecil itu sumpek sendiri," ujar J Kristiadi seusai acara yang berlangsung di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Senin (5/5).

Pada kesempatan yang sama, pengamat politik dari CSIS tersebut mengatakan soal sah tidaknya salah satu kubu ikut serta sebagai peserta pemilu bukan menjadi hak pemerintah untuk memutuskan. Semuanya harus diserahkan kepada pihak pengadilan. 

Melihat polemik yang terus berkepanjangan, J Kristiadi juga mengatakan, hal itu risiko yang harus ditanggung PKB. KPU tidak bisa memperpanjang waktu untuk pendaftaran dan pengesahan hanya untuk kepentingan satu partai saja.

Saat ditanya, jika menang dalam gugatannya, apakah PKB Kubu Muhaimin akan bisa menang tanpa kehadiran sosok Gus Dur yang begitu identik dengan PKB, J Kristiadi mengatakan hal itu tergantung konsolidasi PKB dalam Pemilu 2009. "PKB Muhaimin bisa menang tergantung konsolidasi," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau