JAKARTA, SENIN - Konflik di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa seakan tak pernah habis. Masing-masing kubu (baik kubu Gus Dur maupun Muhaimin Iskandar) mengklaim kubu mereka paling benar. Muktamar luar biasa hingga gugatan ke pengadilan pun dilayangkan.
Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar dan Gus Dur adalah dua tokoh sentral dari dua kubu yang sedang bersitegang. Khusus Gus Dur, tantangan untuk menyelesaikan persoalan sebelum ajang Pilpres 2009 berlangsung menjadi tantangan terbesar yang dihadapinya saat ini. Kalau ingin dicalonkan lagi sebagai presiden, sosok penuh kontroversi ini perlu segera mungkin mengatasi persoalan itu.
Bagi seorang Gus Dur, harusnya hal itu bukan hal yang mustahil. Pasalnya, mantan Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB Kubu Muhaimin ini pernah menangani "perkara" yang lebih besar dan luas, yakni saat menjabat orang nomor satu di Indonesia (presiden).
Guyonan pun datang dari salah satu pengamat politik J Kristiadi saat hadir sebagai pembahas hasil survei yang dilakukan salah satu lembaga riset. "Gus Dur, tokoh besar urus barang sekecil itu sumpek sendiri," ujar J Kristiadi seusai acara yang berlangsung di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Senin (5/5).
Pada kesempatan yang sama, pengamat politik dari CSIS tersebut mengatakan soal sah tidaknya salah satu kubu ikut serta sebagai peserta pemilu bukan menjadi hak pemerintah untuk memutuskan. Semuanya harus diserahkan kepada pihak pengadilan.
Melihat polemik yang terus berkepanjangan, J Kristiadi juga mengatakan, hal itu risiko yang harus ditanggung PKB. KPU tidak bisa memperpanjang waktu untuk pendaftaran dan pengesahan hanya untuk kepentingan satu partai saja.
Saat ditanya, jika menang dalam gugatannya, apakah PKB Kubu Muhaimin akan bisa menang tanpa kehadiran sosok Gus Dur yang begitu identik dengan PKB, J Kristiadi mengatakan hal itu tergantung konsolidasi PKB dalam Pemilu 2009. "PKB Muhaimin bisa menang tergantung konsolidasi," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang