Penebar SMS Teror Itu Bermaksud 'Baik'

Kompas.com - 07/05/2008, 07:54 WIB

BALIKPAPAN - Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Hendi Yuzar,  harus  berurusan dengan pihak berwajib. Pria berusia 20-an tahun itu ditangkap tim Detasemen Khusus Antiteror 88 di rumahnya, Jalan KH Dewantara, Tenggarong, Selasa (6/5) pukul 14.00. Hendi  ditangkap karena menyebarkan pesan singkat atau SMS berisikan ancaman bom terhadap seluruh kantor Pemerintahan Kutai Kartanegara.

Penangkapan dipimpin Direktur Direktorat Reskrim Polda Kaltim Kombes Arief Wicaksono setelah mendapat laporan SMS yang meresahkan. Saat itu, Direskrim bersama Kepala Densus 88 Urip Widodo yang berada di Samarinda dihubungi anggota Kepala Satserse Intel soal  SMS itu. Direskrim lalu memerintahkan melacak nomor handphone penyebar SMS dan menangkap pelakunya.

Dua nomor itu berasal dari kartu As dengan nomor akhir xxx 849 dan xxx4770. Nomor berakhiran 849 yang beralamat di Jl Sentosa, Samarinda, ternyata nihil. "SMS itu beredar lagi dengan nomor lain (xxx4770) dan dicek penyebar SMS berada di Tenggarong," kata Arief mengenai kronologi penangkapan di Kantor Densus 88 Polda Kaltim, Selasa (6/5).

Hendi adalah mahasiswa perguruan tinggi di Tenggarong. Ia diduga melakukan teror karena kecewa dengan kinerja Pemerintah Kutai Kartanegara. "Saya minta maaf kepada teman-teman dan masyarakat Kutai Kartanegara. Secara pribadi saya punya niat baik, tapi caranya salah," ujar Hendi yang wajahnya ditutup jaket. Saat ditanya motif perbuatannya itu, Hendi menjawab untuk pengalihan opini.  

Direskrim mengimbau agar asyarakat tidak gampang membuat teror. "Sebab dampaknya begitu luas bagi masyarakat seperti keresahan dan rasa tidak aman. Soal terkait dengan jaringan terorisme atau tidak, Direskrim menyatakan masih menyelidiki," kata Arief.

Berhamburan

Isu bom cukup mengagetkan. Mendengar kabar adanya bom diletakkan di gedung wakil rakyat, ratusan pegawai dan beberapa anggota dewan berhamburan keluar. Gedung yang tadinya dipenuhi ratusan pegawai dan anggota dewan itu kosong melompong.

Dari pantauan Tribun, para pegawai tersebut tidak langsung pulang. Mereka masih membicarakan isu bom yang baru saja menimpa mereka. "Tadi kaget, tiba-tiba ada pengumuman dari pengeras suara kalau kita diminta meninggalkan ruangan karena ada bom. Dengar itu, ya kita langsung turun tangga," kata staf Komisi II DPRD, Dewi. Saking paniknya, ia lupa membawa tas miliknya.

Ika, pegawai komisi II yang sedang hamil 7 bulan, mengaku hal yang sama. Ketika tahu ada informasi itu, ia segera meninggalkanya ruangannya. "Tadi lagi ngetik-ngetik surat. Dengar kabar dari pengeras suara, cepat-cepat saya keluar," ucapnya.

Pertemuan antara Komisi I, perwakilan KUD Rima Etam, dan PT Alcon yang akan membahas masalah tanah pun terpaksa dibatalkan. Musmuliadi yang memimpin acara itu mengaku ini adalah pertama kalinya DPRD mendapat isu teror bom. "Tadi rapat baru saja mau dimulai. Kebetulan saya pimpin. Dapat informasi  itu, ya kita ikuti saja," kata Mus dengan nada santai.

Setelah semua pegawai dan anggota dewan keluar ruangan, sekitar 2 peleton aparat Polres Kutai Kartanegara yang terdiri dari satuan Samapta, Intel, Reskrim ,dan Dalmas serta dibantu dengan Satpol PP menyisir tiap sudut gedung yang terdiri dari 2 lantai itu. Mereka memeriksa laci, tempat sampah dan tempat-tempat lainnya yang diperkirakan tempat bom berada. Polisi juga menggunakan alat metal detector (pendeteksi logam) untuk mendeteksi keberadaan bom.

Setelah memeriksa seluruh ruangan, sekitar pukul 12.00, Wakil Polres Kutai Kartanegara Kompol I Gede Yusa melalui pengeras suara mengumumkan bahwa polisi tidak menemukan bom seperti informasi yang didapat. Polisi memastikan bahwa gedung aman dan mempersilakan pegawai DPRD bekerja kembali.  (reo/m20)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau