BANYUMAS, RABU - Biaya produksi pertanian padi diperkirakan akan melambung tinggi kalau harga bahan bakar minyak atau BBM akan naik pada Juni mendatang. Sejumlah pengusaha penggilingan padi di Banyumas pun mengaku, sebenarnya saat ini mereka sudah tak sanggup menghadapi harga BBM yang mahal.
Sekretaris Asosiasi Perberasan Banyumas Faturo hman, Rabu (7/5), mengatakan, kenaikan harga BBM akan berdampak cukup besar terhadap harga beras karena biaya pengolahan gabah menjadi beras akan ikut melambung. Karenanya, pemerintah perlu mengoreksi lagi kenaikan harga pembelian pemerintah gabah setara beras yang baru saja diterapkan, dari Rp 4.200 menjadi Rp 4.700 per kilogram.
Kalau dihitung berdasarkan asumsi kenaikan BBM sebesar 30 persen, lanjutnya, biaya pengolahan gabah menjadi beras akan naik dari Rp 15 menjadi Rp 20 per kg. Biaya itu akan ditambah lagi dengan ongkos bongkar muat yang diperkirakan akan naik dari Rp 5 menjadi Rp 25 per kg. Ongkos angkut juga akan naik dari Rp 40 per kg menjadi Rp 55 per kg. "Semuanya ini naik harganya karena menggunakan BBM," ujarnya.
Karenanya, harga beras yang cocok sesuai dengan kenaikan harga BBM itu, kata Faturohman, berkisar Rp 4.700 per kg. "Kalau pemerintah tidak mau menaikkan HPP beras atau gabah setara beras dari Rp 4.300 menjadi Rp 4.700 per kg, kami para mitra Bulog akan meminta tambahan biaya untuk pengolahan dan pengangkutan," katanya.
Slamet Hadipura (77), pengelola Rice Mill Unit Sida Dadi di Desa Karangtengah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, mengatakan, dengan harga BBM saat ini yang sudah mahal pun, keuntungan yang diperoleh hanya lima persen dari pendapatan. "Pendapatan yang diperoleh itu lebih banyak terserap untuk biaya bahan bakar solar untuk menjalankan mesin penggiling padi. Ditambah lagi dengan biaya membayar upah kuli," tuturnya.
Untuk 500 kilogram gabah yang digiling, katanya, pendapatan yang diperoleh hanya Rp 100.000. Pendapatan sebesar itu harus dipotong untuk membeli lima liter solar seharga Rp 21.500, ditambah lagi upah tiga kuli angkut seharga Rp 60.000. "Itu masih ditambah lagi dengan biaya pembelian suku cadang yang dari sekarang juga sudah merangkak naik. Jadi, keuntungannya sangat tipis," katanya.
Teguh (47), pengelola RMU Sri Maharga di Rempoah, Kecamatan Baturraden, malah mengaku, lebih baik tak lagi mengelola usaha penggilingan padi kalau BBM naik lagi. "Sekarang saja keuntungan yang diperoleh sudah tipis sekali. Apalagi nanti kalau BBM naik, sepertinya semakin berat. Lebih baik berhenti saja," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang