Sukawi: Saya Tetap Maju

Kompas.com - 08/05/2008, 15:28 WIB

   
SEMARANG, KAMIS-Calon gubernur dari koalisi Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera Jawa Tengah, Sukawi Sutarip menyatakan, sudah kaya sebelum menjabat sebagai Walikota Semarang. Jika laporan kekayaan dirinya ke Komisi Pemilihan Umum sebesar Rp 56,2 miliar, itu sepenuhnya berasal dari penghasilannya sebagai pengusaha real estate.

Hal itu disampaikan cagub Sukawi Sutarip, Kamis (8/5) seusai menyampaikan paparan visi dan misi calon gubernur yang diselenggarakan Dewan Riset Daerah dan Komisi Pemilihan Umum Jateng di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Pemprov Jateng di Semarang.

"Saya akui pemberitaan soal penetapan diri saya sebagai tersangka oleh Kejaksaan Tinggi telah menganggu anak dan keluarga saya. Saya sendiri tegar dan tidak terpengaruh dengan penetapan status itu, maka saya tetap maju menuntaskan proses pemilihan gubernur Jateng," kata Sukawi Sutarip yang terlihat sumringah ketemu sejumlah wartawan cetak, radio maupun elektronik.

Di tengah proses pemilihan gubernur Jateng yang digelar KPU Jateng pada 22 Juni 2008, mendadak Kejaksaan Tinggi Jateng mengumumkan penetapan Sukawi Sutarip sebagai tersangka atas kasus dugaan korupsi Dana Komunikasi APBD Kota Semarang 2008 yang senilai Rp 6 miliar. Sukawi yang mencalonkan diri sebagai cagub, berpasangan dengan Sudharto (Ketua PGRI Jateng), masih menjabat Walikota Semarang periode 2005-2010 untuk jabatan kedua kalinya.

Sukawi Sutarip menyatakan, sejak adanya penetapan status tersangka maka dirinya belum menerima surat dari Kejati Jateng. Surat itu, baik surat penetapan status tersangka maupun surat pemanggilan dirinya untuk menjalani pemeriksaan lanjutan atas kasus dugaan korupsi dana APBD Kota Semarang. Sukawi tidak sendiri ditetapkan tersangka karena Ketua DPRD Kota Semarang, Ismoyo Soebroto juga ditetapkan sebagai tersangka pula.

Pada kesempatan itu, Sukawi kembali mengakui memang dalam Dana Komunikasi APBD 2004 terdapat aliran dana pada dirinya maupun seluruh pimpinan dan anggota DPRD Kota Semarang. Mengenai berapa besar dana yang dialirkan, Sukawi mengaku, dirinya lupa jumlahnya maupun penerima karena itu kasus itu sudah lama.

Pada kajian visi dan misi cagub tersebut, empat pasang cagub, selain Sukawi Sutarip, sepertinya sepakat menyampaikan program pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme dan menciptakan pemerintahan yang bersih dan mengedepankan pelayanan publik. Empat cagub yang hadir terdiri Letjen Purn Bibit Waluyo, Mayjen Purn Agus Soeyitno, cawagub HM Adnan serta Cawagub HA Rozaq Rais yang mewakili cagub HM Tamzil yang tengah melaksanakan ibadah Umroh di tanah Suci, Mekkah.(WHO)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau