WATES, KAMIS – Keputusan sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kulon Progo untuk membatasi atau melarang pembelian bahan bakar minyak BBM dalam kemasan jeriken berdampak pada nelayan. Mereka kini sulit memperoleh bensin sebagai bahan bakar kapal dan terancam tak melaut.
Untuk sekali pergi melaut, rata-rata nelayan di Pantai Trisik dan Bugel, Kulon Progo, butuh bensin 20-25 liter. Jumlah ini setara dengan satu jeriken ukuran sedang. “Akhir bulan lalu kami masih bisa membeli bensin sampai beberapa jeriken sekaligus dalam satu hari. Sekarang, hanya boleh beli satu jeriken sehari. Padahal, jumlah nelayan di sini ada banyak,” ujar Dalimin (36), nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kamis (8/5).
Solusinya, para nelayan mengatur giliran melaut. Jika sebelumnya jumlah perahu yang melaut bisa mencapai lebih dari 10 buah per hari, maka sekarang hanya 3-5 perahu saja.
Selain pusing akibat kesulitan memperoleh bahan bakar, nelayan juga mulai resah dengan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintah dalam waktu dekat. Dengan harga bensin Rp 4.500 saja, keuntungan yang didapat hanya berkisar Rp 50.000-Rp 75.000 per hari. Itu pun masih harus dibagi dengan juragan kapal dan rekan nelayan lain, sehingga satu orang nelayan biasanya hanya akan menerima penghasilan bersih Rp 10.000-Rp 15.000 per hari.
“Itu juga kalau cuaca sedang baik. Kalau angin kencang dan ombak besar, kami tidak berani melaut,” tutur Parjan (34), nelayan Pantai Bugel, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan.
Di wilayah pesisir selatan, tidak hanya nelayan yang butuh BBM. Para petani pengolah lahan pasir pun butuh solar untuk menggerakkan mesin pompa air di ladang.
Sudarman (40), petani lahan pasir, mengaku masih belum kesulitan memperoleh solar. Akan tetapi, ia khawatir sisa modal yang dimiliki tidak akan cukup membiayai ongkos olah tanah pada musim tanam cabai kali ini.
Setiap hari, lahan cabai seluas lebih kurang 200 meter persegi yang dikelola Sudarman harus disirami. Agar air di dalam tanah bisa naik ke permukaan, ia pun memerlukan 2-3 liter solar sebagai bahan bakar pompa air.
Meski sudah menuai keluhan, para petugas SPBU di Kulon Progo tidak mampu berbuat banyak untuk mengubah ketentuan pembatasan pembelian BBM. Mereka mengaku hanya menjalankan keputusan yang diambil pemilik SPBU guna mengantisipasi tindakan penimbunan BBM sebelum harganya naik.
“Sebenarnya kami kasihan dengan mereka yang berasal dari daerah terpencil dan membutuhkan bensin, tapi mau bagaimana lagi? Kami tentu sulit menjamin bahwa mereka tidak akan menimbun BBM jika membeli dalam jumlah banyak,” ujar Sinta seorang petugas SPBU Wates Kota.
Sinta sendiri mengaku kewalahan melayani konsumen yang membeli bensin dalam kemasan jeriken. Sebab, di SPBU-SPBU lain, pembelian bensin dalam jeriken sudah dilarang, sehingga para konsumen kemudian lari ke SPBU Wates Kota yang masih memperbolehkan pembelian bensin maksimal satu jeriken sedang per hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang