Nelayan Kulon Progo Kesulitan Dapat BBM

Kompas.com - 08/05/2008, 17:36 WIB

WATES, KAMIS – Keputusan sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kulon Progo untuk membatasi atau melarang pembelian bahan bakar minyak BBM dalam kemasan jeriken berdampak pada nelayan. Mereka kini sulit memperoleh bensin sebagai bahan bakar kapal dan terancam tak melaut.

Untuk sekali pergi melaut, rata-rata nelayan di Pantai Trisik dan Bugel, Kulon Progo, butuh bensin 20-25 liter. Jumlah ini setara dengan satu jeriken ukuran sedang. “Akhir bulan lalu kami masih bisa membeli bensin sampai beberapa jeriken sekaligus dalam satu hari. Sekarang, hanya boleh beli satu jeriken sehari. Padahal, jumlah nelayan di sini ada banyak,” ujar Dalimin (36), nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kamis (8/5).

Solusinya, para nelayan mengatur giliran melaut. Jika sebelumnya jumlah perahu yang melaut bisa mencapai lebih dari 10 buah per hari, maka sekarang hanya 3-5 perahu saja.

Selain pusing akibat kesulitan memperoleh bahan bakar, nelayan juga mulai resah dengan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintah dalam waktu dekat. Dengan harga bensin Rp 4.500 saja, keuntungan yang didapat hanya berkisar Rp 50.000-Rp 75.000 per hari. Itu pun masih harus dibagi dengan juragan kapal dan rekan nelayan lain, sehingga satu orang nelayan biasanya hanya akan menerima penghasilan bersih Rp 10.000-Rp 15.000 per hari.

“Itu juga kalau cuaca sedang baik. Kalau angin kencang dan ombak besar, kami tidak berani melaut,” tutur Parjan (34), nelayan Pantai Bugel, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan.

Di wilayah pesisir selatan, tidak hanya nelayan yang butuh BBM. Para petani pengolah lahan pasir pun butuh solar untuk menggerakkan mesin pompa air di ladang.
Sudarman (40), petani lahan pasir, mengaku masih belum kesulitan memperoleh solar. Akan tetapi, ia khawatir sisa modal yang dimiliki tidak akan cukup membiayai ongkos olah tanah pada musim tanam cabai kali ini.

Setiap hari, lahan cabai seluas lebih kurang 200 meter persegi yang dikelola Sudarman harus disirami. Agar air di dalam tanah bisa naik ke permukaan, ia pun memerlukan 2-3 liter solar sebagai bahan bakar pompa air.

Meski sudah menuai keluhan, para petugas SPBU di Kulon Progo tidak mampu berbuat banyak untuk mengubah ketentuan pembatasan pembelian BBM. Mereka mengaku hanya menjalankan keputusan yang diambil pemilik SPBU guna mengantisipasi tindakan penimbunan BBM sebelum harganya naik.

“Sebenarnya kami kasihan dengan mereka yang berasal dari daerah terpencil dan membutuhkan bensin, tapi mau bagaimana lagi? Kami tentu sulit menjamin bahwa mereka tidak akan menimbun BBM jika membeli dalam jumlah banyak,” ujar Sinta seorang petugas SPBU Wates Kota.

Sinta sendiri mengaku kewalahan melayani konsumen yang membeli bensin dalam kemasan jeriken. Sebab, di SPBU-SPBU lain, pembelian bensin dalam jeriken sudah dilarang, sehingga para konsumen kemudian lari ke SPBU Wates Kota yang masih memperbolehkan pembelian bensin maksimal satu jeriken sedang per hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau