SEMARANG, KAMIS - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan penanaman jarak seluas 161.713 hektar di 29 kabupaten/ kota. Menurut rencana, tahun 2008 Jateng bisa menghasilkan 27.201 ton jarak, yang selanjutnya bisa menghasilkan 8.160 ton atau sekitar 7,5 juta liter minyak jarak untuk campuran 5-10 persen solar industri.
Menurut Kepala Seksi Pengembangan Potensi dan Teknologi Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jateng Tritjahjo Lukito, wacana ini digulirkan saat pertemuan dengan Gubernur Jateng Ali Mufiz beberapa hari lalu. Pengembangan jarak ini akan dikembangkan untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang diperkitakan terjadi Juni nanti, kata Lukito, Kamis (8/5).
Lukito mengatakan, Jateng mendapat tawaran mesin pembuat minyak jarak (crude jatropha oil) dari Kanada dengan harga Rp 800 juta Rp 1 miliar per mesin. Dengan mesin ini, diharap tahun ini Jateng bisa menghasilkan sekitar 7,5 juta liter minyak jarak dari buah jarak yang dapat digunakan sebagai campuran solar sebanyak 5-10 persen.
Saat ini, ada beberapa perusahaan yang mulai tertarik bergerak menjadi produsen minyak jarak di Jateng, antara lain PT Sampoerna, PT Energi Hijau Lestari (Enhil) di Kabupaten Grobogan, dan PT Pura Barutama di Kabupaten Kudus. Kabupaten Pati juga baru saja mendapat bantuan mesin pengolah biodiesel dengan kapasitas produksi 300 ton minyak jarak per tahun, kata Lukito.
Walaupun banyak perusahaan dari luar negeri maupun luar daerah yang ingin menjalankan insdutri pengolahan minyak jarak, pro duksi dan konsumsi minyak jarak di Jateng masih belum berkembang hingga kini. Menurut Lukito, ini disebabkan sulitnya mengubah kebiasaan masyarakat yang belum mau menggunakan minyak jarak sebagai energi alternatif.
Menurut data Dinas Perkebunan Jateng 20 08, potensi pengembangan jarak tertinggi terdapat di Kabupaten Purworejo, yaitu seluas 47.220 hektare. Hingga 2008, pengembangan lahan penanaman jarak terluas adalah di Kabupaten Karanganyar, seluas 2.095 hektare dan di Kabupaten Jepara, seluas Rp 1.765 hektare.
PLN kewalahan
Menjelang kenaikan harga BBM, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Distribusi Jateng-Daerah istimewa Yogyakarta (DIY) belum bisa melakukan efisiensi penggunaan listrik. Menurut Manajer Komunikasi, Hukum, dan Administrasi PT PLN Distribusi Jateng-DIY Endro Yulianto, PLN mengeluarkan biaya terbanyak saat beban puncak yang terjadi pukul 17.00-22.00 setiap hari.
Biaya yang dikeluarkan pun sangat banyak, Rp 2.300 per kilo watt hour (kWh), padahal kita melayani kebutuhan hingga mencapai 2.650 megawatt di Jawa-Bali saat beban puncak. Saat itu, kita menggunakan energi campuran b erupa batubara, minyak, dan air, kata Endro.
Proporsi minyak paling banyak dalam menghasilkan energi listrik saat beban puncak. Menurutnya, saat harga BBM naik, maka biaya yang dikeluarkan untuk membeli pasokan minyak dari Pertamina pun bertambah banyak.
A08
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang