Sukawi Siap Mundur

Kompas.com - 09/05/2008, 20:01 WIB

 

SEMARANG, JUMAT-  Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip menyatakan siap mundur dari jabatannya jika akhirnya terbukti bersalah dalam kasus dugaan korupsi dana komunikasi ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Semarang periode 1999-2004. Namun, ia meminta masyarakat untuk tidak mudah mempercayai berbagai informasi yang menyudutkan dirinya akhir-akhir ini.

"Saya tegaskan jika ada satu rupiah pun uang rakyat yang masuk ke saya selama memimpin Kota Semarang, saya berani mundur saat ini juga. Saya mengatakan ini karena komitmen saya untuk tidak mengingkari rakyat Semarang," ungkap Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip, saat menyampaikan sambutan dalam acara Penyerahan Bantuan Sarana dan Prasarana Umum dan Tempat Ibadah di Aula Pertemuan Balai Kota Semarang, Jumat (9/5).

Menurut Sukawi, informasi-informasi yang berkembang saat ini sangat memojokkan dirinya. Padahal, belum ada keputusan hukum apapun dari aparat hukum. Informasi semacam itu, disebutnya, dapat menjatuhkan nama baiknya.

"Dulu, ketika berjalan di tempat umum, saya merasa bangga karena menjadi pemimpin kota Semarang. Kini, ketika berjalan di tempat umum saya merasa malu. Dalam pikiran saya, orang-orang yang berada di sekitar saya mungkin akan menyebut saya koruptor," tutur Sukawi.

Informasi yang menyudutkannya tersebut, diyakini juga akan mengganggu proses pencalonannya menjadi gubernur Jawa Tengah dalam pemilihan gubernur Juni mendatang. Bahkan di beberapa daerah pelosok, Sukawi mengaku menerima kabar, banyak berita bahwa dirinya telah dipenjara.

"Ini kan sudah keterlaluan. Saya yakin ini adalah bagian dari black campaign (kampanye hitam) untuk mengganjal pencalonan saya sebagai gubernur. Saya hanya berharap, masyarakat tidak terburu-buru mempercayai informasi itu. Karena itu, saya titip pesan, informas ikan pada semua rakyat Semarang, saya bersumpah sama sekali tidak pernah menggelapkan uang mereka," tegas Sukawi kepada para hadirin.

Terkait pengumuman daftar kekayaannya sebesar Rp 56 miliar beberapa waktu lalu, Sukawi mengaku sebagian besar kekayaannya adalah hasil yang diperoleh sebelum dirinya menjabat Wali Kota Semarang. "Hampir semua lahan tanah tersebut dibeli saat saya masih jadi pengusaha real estate. Namanya juga tanah. Tiap tahun, harganya pasti akan naik dengan sendirinya," kata dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau