SURABAYA, JUMAT - Tim kajian kelayakan permukiman akibat semburan lumpur Lapindo merekomendasikan Jalan Raya Porong ditutup untuk menghindari bahaya kebakaran atau ledakan. Warga Desa Siring Barat, Jatirejo Barat, dan Mindi juga harus segera diungsikan. Sebab, kandungan gas metana yang meruap dari retakan tanah sangat mengancam jiwa warga.
Ketua tim kajian kelayakan permukiman akibat semburan lumpur sidoarjo (KKPASLS) I Nyoman Sutantra, Jumat (9/5) di Surabaya mengatakan, Jalan Raya Porong semestinya ditutup atau setidaknya tidak boleh macet. Sebab, bila terjadi kemacetan, evakuasi ataupun penanganan situasi darurat akan sulit dilakukan. Karenanya diperlukan jalur alternatif.
Jalan Raya Porong termasuk daerah rawan karena ada kandungan gas yang keluar dari tanah. Sebab Jalan Raya Porong terletak di antara Desa Jatirejo RT 1 dan RT 2. Di daerah itu, kandungan gas metana (hidrokarbon) yang terdeteksi berkisar 2.100-50.000 ppm (part per million). Sementara, ambang batas hidrokarbon yang aman untuk manusia hanya 0,24 ppm.
Wilayah rawan gas metana ini adalah RT 10, 13, dan 15 Desa Mindi; di Desa Siring Barat terdapat di RT 1, RT 2, RT 3, dan RT 12 dari RW 02. Adapun di Desa Jatirejo Barat wilayah rawan terletak di RW 01 dan RW 02.
Menurut temuan geolog, sekitar 1,5 km di bawah Jatirejo, Siring, dan Mindi, ada kandungan gas yang cukup besar. "Masalahnya bisa terjadi penurunan dan keretakan tanah serta gas keluar ke permukaan, rawan untuk manusia dan rentan terjadi kebakaran, " tutur Nyoman Sutantra.
Tim KKPASLS, lanjutnya, merekomendasikan warga harus diungsikan. Sebab, secara lingkungan gas metana mengganggu pernapasan manusia. Air di wilayah itu juga tidak layak pakai. Penurunan tanah menyebabkan rumah retak-retak. Kondisinya sudah darurat. "Kalau tanah retak, gas akan keluar tidak terkendali, " tambahnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang