SURABAYA, SABTU - Semburan air bercampur gas terjadi di kawasan pabrik es di Kelurahan Siring sebelah Barat, Sidoarjo sejak Sabtu pagi (10/5). Tinggi semburan yang awalnya sekitar 20 cm terus membesar sehingga petang hari tinggi semburan mencapai 15 meter.
Meski demikian, pihak Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (BPBPLS) baru akan menangani setelah berkoordinasi dengan pemilik pabrik di lawasan tersebut. "Kami minta pihak pabrik untuk melakukan langkah-langkah dalam mengatasi semburan di bawah supervisi kami," ujar Kepala Humas BPBPLS, Achmad Zulkarnain.
Dalam menangani semburan, penanganan oleh pihak pabrik. Akan tetapi tetap ada pengawasan dari tim BPBPLS, Fergaco, serta Lapindo Brantas Inc. Pantauan dilakukan setiap hari, termasuk mengukur kadar gas dan volume air.
Menurut dia, semburan ke-87 berupa air bercampur gas tersebut tergolong tinggi. Semburan terjadi akibat tekanan di bawah permukaan lebih tinggi dari tekanan di atas. Terlebih ada tambahan beban dari kolam penampung lumpur. "Selain itu terjadi pergerakan tanah yang menyebabkan munculnya retakan-retakan," katanya.
"Namun, dari pemeriksaan awal, gas yang bercampur air di sana tergolong low explosive limit (LEL). Disini gas yang tergolong LEL misalnya gas hydrocarbon meliputi CO, CO2, dan CH4. Kadar gas di sana tiga persen saja, gas baru digolongkan berbahaya kalau mencapai batas 100 persen," ungkap Zulkarnain.
Mengingat semburan gas belum tergolong berbahaya, maka warga tidak perlu mengungsi. Lokasi semburan untuk sementara hanya dibatasi dengan garis polisi.
Untuk meminimalisir munculnya semburan baru, BPBPLS mengimbau warga untuk menutup sumur yang kedalamannya lebih dari 40 meter bila tidak dimanfaatkan lagi. "Sumur yang sudah tidak dipakai lagi bisa ditutup dengan semen," katanya.
Langkah antisipasi tersebut perlu diambil karena kebanyakan semburan keluar melalui sumur bor warga yang memiliki kedalaman titik bor lebih dari 40 meter. "Tapi tidak masalah kalau sumur masih digunakan," tambah Zulkarnain.
Secara terpisah, Warga Desa Siring Barat RT 1/RW 1 Edi Patopang (60) menuturkan, semburan itu muncul pukul 08.00 pagi. "Semula tidak terlalu tinggi, tapi sekitar pukul 11.30, semburannya sudah mencapai 20 meter," kata pria yang tinggal sekitar 100 meter dari lokasi semburan.
Menurut dia, selain mengeluarkan pasir, batu, dan air, semburan tersebut juga menyebarkan gas. Indikasinya, tercium bau seperti aroma gas elpiji yang sangat menyengat. Namun, ia tidak tahu apakah gas tersebut beracun atau tidak. Hingga petang, belum ada warga sekitar semburan yang mengalami gangguan kesehatan.
Edi mengaku resah dengan semburan baru tersebut. Menurutnya, pemerintah dan pihak berwenang tidak serius menangani semburan-semburan yang makin sering terjadi. Ketidakseriusan itu terutama terjadi di permukiman warga dan pabrik.
"Dua semburan sebelumnya yang muncul di tanggul segera ditangani oleh BPLS. Tetapi kalau terjadi di dekat rumah warga atau di pabrik sepertinya diabaikan," keluh dia.
Semburan dengan material sama sebelumnya muncul di Desa Siring Barat RT 12/ RW 2, Kamis (1/5) pekan lalu. Namun semburan itu relatif tidak tinggi, sekitar 20 sentimeter. Menurut warga sekitar, awalnya hanya berupa gelembung-gelembung yang muncul sejak lima bulan sebe lumnya.
Ketua tim Fergaco, pemantau gas, Dodie Irmawan saat itu menyatakan bahwa kandungan gas yang disebarkan oleh semburan berbahaya karena mudah terbakar. Meskipun semburan tersebut baru mengecil tiga hari kemudian, warga sekitar tetap takut memasak. Aki batnya, sebagian warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat mereka (Kompas, 4/5). (A07)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang