Ninuk Mardiana Pambudy
Kegairahan pada kain asli Indonesia sedang pasang saat ini. Lihat saja ke sekeliling, blus batik katun dipakai di setiap kesempatan. Padahal sebelumnya, yang paling rutin dipakai adalah kemeja katun motif cetak batik golkar.
Di luar batik, Indonesia punya banyak sekali kain asli. Songket dari Pelembang dan Sumatera Barat sudah populer, sementara ikat dari Kepulauan Sunda Kecil namanya dikenal luas melampaui batas negara. Di luar itu, banyak kain asli Indonesia yang masih sayup-sayup terdengar suaranya di luar komunitas penggunanya.
Ulos yang dibuat dan dikenakan masyarakat Batak di Sumatera Utara termasuk yang kurang dikenal masyarakat luas.
Merdi Sihombing menggunakan pendekatan lain untuk mengenalkan ulos ke masyarakat yang lebih luas. Dia sadar betul ulos harus dapat memenuhi selera masyarakat yang tidak mengerti ulos. Karena itu, tanpa meninggalkan filosofi dan ciri khas, Merdi mengolah ulos ke dalam warna-warna baru, benang yang lebih lembut, dan ragam hias yang komposisinya diubah.
Sebagai mahasiswa Jurusan Tekstil Institut Kesenian Jakarta dan beretnis Batak, Merdi memiliki modal dasar untuk mengolah ulos. Dia mendatangi penenun di kampung-kampung di Sumatera Utara dan mengajak mereka menggunakan benang berbeda, ragam hias yang dimodifikasi dari motif-motif tua dan tradisional, serta memakai pewarna alam.
Hasil kerja dua tahun itu dia sajikan dalam peringatan 25 tahun kehadiran PT South Pacific Viscose di Indonesia, Kamis (8/5) malam di Hotel Mulia, Jakarta. Bekerja sama dengan perusahaan serat alam selulosa dari pohon eukaliptus itu, Merdi juga menggunakan benang produksi South Pacific Viscose: Viskos, Modal, dan Tencel. Bukan sekadar memakai serat dari sponsor, Merdi ingin mendapatkan ulos yang lebih nyaman dikenakan dalam berbagai kesempatan.
Ulos
Tema pergelaran ini ”Partonun”, berasal dari kata dalam bahasa Tapanuli yang berarti ”perempuan-perempuan penenun”. Melalui tangan para penenun itu, Merdi menampilkan ulos garapan baru dalam bentuk tenun ikat dan songket.
Ulos parompa sadun, yang biasa dipakai untuk menggendong anak, misalnya, diolah menggunakan benang campuran sutra dan Tencel. Ulos yang lain, abid godang, yang biasa dipakai untuk selimut, bagian ujungnya ditambah tapestry dan manik yang juga ditenun.
Modifikasi komposisi motif tampak terutama pada ulos ikat. Apabila biasanya motif ikat ada di bagian tengah, kini ragam hias ada di seluruh bagian kain dengan melakukan pengulangan. Sebagai pengganti manik alam, Merdi memakai kristal Swarovski.
Pewarnaan alam dengan bahan morinda untuk warna merah, daun randu untuk hijau, tarum untuk biru, atau kulit nangka untuk kuning, ketika dipadu dengan benang songket warna emas atau perak, memberi tampilan baru. Menurut Merdi, hanya di Batak motif songket dibuat dari benang pakan dan lungsi sekaligus.
”Meskipun melakukan modifikasi, Merdi tetap mempertahankan filosofi ulos. Songketnya lebih berani bermain warna dan lebih cocok sebagai fashion,” kata Aurora Tambunan yang kini menjabat Asisten Kesejahteraan Masyarakat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
”Saya sebagai orang Batak cukup surprise melihat ulos yang modern dari Merdi, dikombinasi dengan kristal Swarovski, tetapi masih kelihatan motif tradisionalnya,” komentar Magda Irawan, pengusaha yang juga hadir pada Kamis malam lalu.
Di luar ulos, Merdi juga membuat gaun, kemeja, dan jas. Motif diambil dari ragam hias rumah kayu Batak dengan motif putih di atas dasar putih, merah di atas merah, dan hitam di atas hitam. Motif lain diambil dari pustaha (buku sihir) yang dulu ditulis di atas kulit kayu dan motif perca dari baju pendeta adat. Motif perca yang kuno itu tidak terasa jauh dari masa lalu karena terdiri atas rangkaian segi tiga hitam dan oranye.
Ada kesan Merdi ingin memindahkan apa yang ada di tanah kelahirannya seperti adanya ke dalam rancangannya. Dia menggunakan kulit rotan dan kepompong ulat sutra liar sebagai blus. Atau hiasan kepala parsanggul nan ganjang (sanggul nan tinggi) seperti yang terlihat di buku mengenai masyarakat Batak yang menjadi bahan riset Merdi.
Merdi mengatakan, perlu waktu untuk mengajak para partonun mengubah kebiasaan yang sudah nyaman dijalani bertahun-tahun. Mudah-mudahan sambutan positif yang dia terima untuk upaya ini memberi semangat untuk terus memperbaiki capaiannya, misalnya agar songket itu dapat cantik pada kedua sisinya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang