Kinerja Pemerintahan SBY-JK Dipertanyakan, Rakyat Makin Melarat

Kompas.com - 12/05/2008, 12:20 WIB

Laporan Wartawan Kompas R. Adhi Kusumaputra

JAKARTA, SENIN - Unjuk rasa yang dilancarkan elemen mahasiswa dan kelompok masyarakat pada Senin (12/5) memiliki benang merah, yaitu mempertanyakan kinerja Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Sebab saat ini yang terjadi rakyat malah semakin melarat.     

Seratus tahun sudah Bangsa Indonesia menyatakan kebangkitannya, enam puluh tiga tahun sudah negara ini memproklamasikan kemerdekaannya, dan sepuluh tahun sudah rakyat Indonesia mendeklarasikan era reformasinya. Namun mayoritas rakyat Indonersia masih hidup dalam ketertindasan dan kesengsaraan ekonomi, demikian ungkap Forum Rakyat Menggugat (FRM).

FRM mempertanyakan kinerja pemerintahan SBY-JK dan melihat tak ada capaian prestasi yang patut dibanggakan. Rakyat semakin melarat. Sedikitnya 40 juta rakyat Indonesia menurut BPS 2007, tak mampu memenuhi kebutuhan dasar minimum karena tingkat pengeluarannya lebih rendah dari Rp 5.556 per hari. Sementara pengangguran makin meningkat. "Sedikitnya 10,01 juta atau 9,1 persen penduduk usia kerja tak punya pekerjaan, sedangkan jumlah penganggur terselubung sekitar 40 juta jiwa, yaitu mereka yang bekerja minimal satu jam sehari," tandas FRM.

Harga kebutuhan pokok melambung tinggi, rakyat sudah tak sanggup lagi membeli beras, gandum, kedelai, minyak goreng karena harga terus meroket. Bahkan sebagian rakyat Indonesia terpaksa makan nasi aking. Sementara BBM makin mahal dan lan gka. Meski negeri ini kaya akan sumber daya alam namun nyatanya pemerintah selalu menaikkan harga BBM tanpa memikirkan penderitaan rakyat. Selain terus membubung tinggi, BBM juga selalu menghilang dari pasaran.

Kenaikan harga bahan pokok ini menjadi salah satu alasan makin banyaknya angka bunuh diri sekeluarga yang tak sanggup lagi menghadapi persoalan ekonomi keluarga. Fenomena ini terlihat di Makassar, Pekalongan dan Kuningan. Kondisi ini menyebabkan jumlah bayi gizi buruk bertambah di seluruh Indonesia.

Komersialiasi pendidikan salah satu bukti kewajiban negara mencerdaskan bangsa hanya sebatas slogan. Banyak anak putus sekolah, biaya pendidikan makin tak terjangkau, ratusan gedung sekolah ambruk dan kesejahteraan guru terabaikan.                                                                  

Suara Mahasiswa      

Sementara itu seribuan mahasiswa yang tergabung dalam BEM se-Indonesia menyampaikan sikap: menolak kenaikan harga BBM karena kebijakan itu akan menambah beban dan kesengsaraan rakyat. Kebijakan itu bentuk ketidakbecusan pemerintah mengelola kekayaan negara dan men yelamatkan harta negara.

BEM se-Indonesia melalui koordinatornya Budiyanto mengajak seluruh elemen bangsa, mahasiswa, petani, PNS, buruh, guru, intelejensia dan tokoh bangsa serta elemen bangsa lainnya untuk melakukan segala upaya maksimal untuk menyel amatkan bangsa ini dari keterpurukan.

BEM menuntut SBY-JK menandatangai Tujuh Gugatan Rakyat sebagai bentuk masih adanya komitmen menyelamatkan bangsa dan mengembalikan kesejahteraan rakyat. Tujuh gugatan rakyat itu adalah nasionalisasi asset-aset strategis bangsa, wujudkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi rakyat, tuntaskan kasus-kasus BLBI dan korupsi Soeharto serta kroni-kroninya, kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi dan energi.

Jamin ketersediaan dan kerjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat, tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan, serta selamatkan lingkungan dan tuntaskan kasus lumpur Lapindo Brantras.      

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau