Penolakan Kenaikan BBM Bikin Rupiah Merosot

Kompas.com - 12/05/2008, 15:39 WIB

JAKARTA, SENIN - Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin (12/5) sore mendekati angka Rp9.300 per dollar AS karena pelaku pasar khawatir akan terjadi penolakan oleh masyarakat terhadap rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
    
"Penolakan masyarakat melalui aksi demo atas rencana pemerintah menaikkan BBM mengakibatkan pelaku pasar membeli dollar AS yang memicu mata uang asing itu menguat," kata pengamat pasar uang Edwin Sinaga di Jakarta, sebagaimana dikutip dari Antara.
    
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar mencapai Rp9.260/9.270 per dollar AS dibanding penutupan akhir pekan lalu yang mencapai Rp9.240/9.254 atau turun 20 poin.
    
Menurut Edwin, kenaikan harga BBM ini merupakan isu global yang terjadi hampir di semua negara bukan hanya di Indonesia. Kenaikan harga BBM tidak dapat ditunda lagi harus segera dilakukan pada awal bulan ini. "Dengan meningkatnya harga BBM, anggaran belanja negara untuk sementara tidak akan tergerus begitu besar," katanya.
    
Kenaikan BBM itu, lanjut nya, akan menekan rupiah yang diperkirakan akan bisa mencapai di atas angka Rp9.300 per dollar AS. "Kami perkirakan rupiah akan makin terpuruk. Namun, pada angka Rp9.300 per dollar AS kemungkinan Bank Indonesia akan masuk ke pasar uang untuk menjaga kemerosotan lebih jauh," katanya.
    
Apalagi, menurut dia, BI memiliki cadangan devisa yang cukup besar untuk menjaga rupiah agar tetap berada pada level yang aman.
    
Kenaikan BBM itu, juga akan menekan inflasi tinggi yang mendorong BI akan menaikkan lagi suku bunga acuannya yang saat ini mencapai 8,25 persen, katanya.
    
Ia mengatakan, kenaikan BBM memang sangat berpengaruh terhadap hampir semua sektor. Bahkan perbankan sendiri akan merasakan penyaluran kreditnya melambat, setelah perbankan menyesuaikan tingkat suku bunga setelah BI kembali menaikkan BI Rate. "Kondisi ini juga makin memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan akan turun dari persen lebih menjadi di bawah enam persen," ucapnya.
    
Pasar uang, tambah Edwin Sinaga diperkirakan akan melemah dalam beberapa hari, karena pelaku cenderung berdiam diri. Mereka, khawatir akan muncul aksi besar-besar dalam menolak kenaikan BBM itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau