BANDUNG, SENIN- Sekolah rata-rata menerapkan batas standar kelulusan rendah dalam ujian akhir sekolah berstandar nasional tingkat sekolah dasar tahun 2008 ini. Langkah cari aman ini diambil guna meminimalisasikan risiko ketidaklulusan pada siswa. UASBN ini dilaksanakan serentak mulai Selasa (12/5) hingga Kamis (15/5) mendatang.
Kecenderungan penetapan batas kelulusan rendah ini terungkap berdasarkan hasil penelusuran di sejumlah sekolah, Senin (12/5). Di SDN Cihaurgeulis IV misalnya, batas nilai kelulusan tiga mata pelajaran yang diujikan dalam UASBN dipatok sebesar 4,25 flat atau rata. Ketiga pelajaran yang diujikan secara nasional sesuai urutan waktu ujian adalah Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam.
"Kami tidak mau muluk. Kejar standar tinggi tetapi beresiko. Setidaknya, angka itu sudah sesuai standar minimal. Meski, belum baku," ujar Kepala SDN Cihaurgeulis IV Bani Wardia menajwab pertanyaan soal alasan menerapkan standar angka itu. Sekedar informasi, kelulusan UASBN sepenuhnya ditentukan rapat dewan guru (sekolah). Nilai batas kelulusan juga sepenuhnya ditentukan sekolah.
Kebijakan UASBN macam ini, diakui Bani, menuntut kejelian pemetaan potensi siswa oleh guru. Dari hasil latihan, Matematika itu yang tersulit. Ada beberapa siswa yang masih jelek nilainya, dapat nilai 3 ada empat orang. "Bahkan, nilai 2 ada tiga orang," tuturnya. Total siswa peserta ujian di SDN yang telah terakreditasi A ini adalah 78 orang dari dua kelas pararel.
Lain lagi dengan standar nilai kelulusan di SDN Merdeka V/IV. Di salah satu sekolah favorit ini, standar nilai kelulusannya tidak flat (seragam tiap pelajaran). Nilai IPA misalnya, dipatok 5 sementara Bahasa Indonesia 6. Khusus Matematika, nilainya itu hanya 3,75. Tidak perlu gengsi-gengsi, yang penting diukur kemampuannya itu berapa, ucap Kepala SDN Merdeka V/IV Sri Widiastuti.
Menyikapi gejala ini, aktivis pendidikan Ahmad Taufan menilai, sekolah memilih cara aman dengan merendahkan nilai kelulusan dalam UASBN. Mau tidak mau, nilai yang dipatok itu adalah batas terendah. Nilai siswa yang paling rendah sesuai pemetaan. Kalau mengambil nilai rata-rata, bisa babak belur sekolah, tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang