Penggunaan Disinfektan untuk Mematikan Virus

Kompas.com - 12/05/2008, 20:58 WIB

JAKARTA, SENIN-Virus flu burung (H5N1) merupakan momok tersendiri bagi masyarakat, sampai saat ini belum ditemukan cara efektif untuk menghentikan virus yang sudah mematikan banyak orang ini. Di Indonesia, upaya untuk menghentikan dilakukan dengan kerja keras, namun sampai kini virus itu tetap jadi ancaman nyata yang ditakuti banyak orang.

Untuk itu, upaya pengendalian dan pencegahan penyebaran virus itu merupakan langkah yang lebih baik dibanding mengobati. Pencegahannya tidak hanya sebatas penggunaan vaksinasi flu burung pada unggas, melainkan juga dengan menggunakan desinfektan yang efektif mematikan virus flu burung (H5N1) di lingkungan peternakan, pemukiman, rumah sakit dan tempat umum lain seperti sekolah.  

"Pencegahan penyebaran virus flu burung masih lebih efektif diband ingkan dengan cara mengobati, karena virus ini mudah bermutasi," kata ahli patologi dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IP B) Agus Setiyono, Senin (12/5), dalam jumpa pers, di Hotel Ciputra, Jakarta. Salah satunya dengan mencuci peralatan dan menyemprot tempat yang berisiko terkontaminasi virus H5N1 dengan desinfektan, zat kimia yang membunuh dan menghambat multiplikasi mikroorganisme yaitu bakteri, protozoa, fungi dan virus.

Menurut Direktur Eksekutif Magna International Singapore, produsen sebuah produk desinfektan, Nelson Cheng , penggunaan desinfektan bisa membantu individu, rumah sakit dan peternak ayam untuk mengendalikan pandemi. Desinfektan jenis deterjen kationik diharapkan mampu memutus mata rantai penularan virus H5N1. Apalagi, kemasannya mudah dibawa bagi individu, cukup menyemprotkan, praktis dan efisien.

Agus menyatakan, setelah melalui beberapa uji laboratorium, desinfektan kategori deterjen kationik memang terbukti seratus persen efektif membunuh virus flu burung. Metode pengujian yang dilakukan adalah, pupukan virus H5N1 pada media telu r embrio tertunas (TET) yang diberikan desinfektan itu dengan konsentrasi seratus persen sebagai bahan obat yang diuji. Penyiapannya dilakukan dengan mengencerkan desinfektan itu yang perbandingannya 1 banding 1. Pengenceran dilakukan dengan H2O murni ditambahkan antibiotik.

Kemudian, dari setiap pengenceran ditambah dua mililiter pupukan virus H5N1. Setelah itu, campuran tersebut diinkubasikan selama 15 menit pada suhu 37 derajat celsius. Selanjutnya, campuran yang diinkubasi diambil sebanyak 0,2 mililiter untuk diinoklulasikan ke dalam TET yang berusia 11 hari melalui rute r uang alantois. Selanjutnya, semua pupukan itu dimasukkan ke dalam inkubator pada suhu 37 derajat celsius, dan dilakukan pengamatan tiap hari dengan cara meneropong telur-telur itu.

Pengamatan dihentikan jika embrio pada TET telah mati. Selanjutnya, telur yang embrionya telah mati ini diambil cairan alantoisnya untuk dilakukan pemeriksaan rapid test dengan menggunakan serum standar AI. Hasilnya, desinfektan itu mampu membunuh vi rus H5N1 dengan konsentrasi seratus persen. (EVY)      

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau