Qanita, Duta Indonesia di Konferensi Lingkungan Sedunia

Kompas.com - 12/05/2008, 21:00 WIB

YOGYAKARTA, SENIN - Qanita Qamarini, siswi SMP 5 Yogyakarta, akan mewakili Indonesia mengikuti konferensi anak-anak sedunia tentang lingkungan hidup, Tunza International, yang rencananya digelar di Stavanger, Norwegia pada 16-21 Juni 2008.

Usai diterima Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto, Senin, siswi kelas VII Program Internasional tersebut mengatakan dirinya terpilih mewakili Indonesia atas program kampanye penghijauan yang dilakukannya bersama dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

Qanita yang lahir pada 10 Maret 13 tahun lalu itu, mengatakan bahwa menanam pohon memiliki kekuatan universal di berbagai budaya dan segala lapisan masyarakat.

"Menanam pohon dapat dilakukan oleh siapa saja, tua-muda, kaya-miskin, lelaki-perempuan, anak-anak atau orang dewasa," kata gadis berambut panjang itu. Ia menanam pohon di pekarangan rumahnya, pinggir jalan desa, dan kompleks perumahan di sekitar rumahnya bersama dengan masyarakat.

"Saya membujuk tetangga-tetangga sekitar untuk menanam pohon dengan alasan mendukung proyek yang sedang saya lakukan, dan mereka mau," katanya dengan suara lirih.

Keinginan untuk menyelamatkan lingkungan hidup timbul dalam diri Qanita setelah menyadari bahwa kondisi dunia semakin memanas akibat pemanasan global.

"Jika dibiarkan terus-menerus, dunia ini akan rusak," kata anak pasangan Ahmad Saifudin dan Yuni itu. Selain di rumah, Qanita sering mengingatkan teman-temannya di sekolah untuk membuang sampah pada tempatnya.

"Kadang mereka tidak peduli dengan alasan ada yang bertugas membersihkan sampah," kata Qanita yang menolak ruang kelasnya dilengkapi pendingin ruangan dengan alasan merusak ozon.

Pada konferensi lingkungan hidup di Norwegia, Qanita yang akan pergi didampingi ayahnya itu akan mempresentasikan proyek yang telah dilakukannya dan juga mengikuti kegiatan "field trip" serta diskusi bersama anak-anak dari 100 negara lain.

Qanita juga pernah terpilih mengikuti "Children's Conference on Climate Change" (CCCC) yang digelar di Surabaya pada November tahun lalu dalam rangka menyambut Konvensi Perubahan Iklim yang digelar di Bali pada Desember 2007 lalu.

Selain melakukan kampanye melalui program nyata, hasil lukisan Qanita yang bertema "Save the Dessert" pernah masuk lima besar pada kejuaraan yang digelar United Nation Environment Programme (UNEP) pada 2007. Lukisan yang menggambarkan pohon kurma dengan tiga daun yang masing-masing mewakili gurun di daerah Arabia, Afrika dan Amerika itu kini menjadi salah satu poster kampanye lingkungan hidup UNEP.

Ia juga pernah melawat ke Jepang pada 2005 setelah lukisannya yang berjudul "Hide and Seek" merebut "special prize" di Aichi Expo. Selain itu, lukisan digitalnya yang berjudul "My Favorite Sport" dengan gambar balap karung juga menuai prestasi di International Child`s Art Competition sehingga ia berkesempatan mengunjungi Washington DC pada Juni 2007.

Sementara itu, Walikota Yogyakarta Herry Zudianto yang menerima Qanita di kantornya bahkan berkeinginan menjadikan siswi SMP tersebut sebagai ikon dalam kampanye lingkungan hidup di Yogyakarta.

Tunza International adalah konferensi anak-anak tentang lingkungan hidup yang diselenggarakan oleh UNEP bekerja sama dengan Young Agenda 21. Konferensi di Norwegia tersebut adalah konferensi ketujuh sejak 1995 dan diperkirakan dihadiri oleh 1.000 anak-anak serta pendampingnya.

Sebelum digelar di Norwegia, konferensi yang diadakan tiap dua tahun sekali itu pernah digelar di Eastbourne Inggris (1995), Nairobi Kenya (1998), Eastbourne (2000), Victoria BC Kanada (2002), New London Amerika Serikat (2004) dan Putrajaya Malaysia (2006).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau