Gelap Pertama di Enggano

Kompas.com - 13/05/2008, 23:08 WIB

JAKARTA, SELASA - Listrik merupakan masalah utama yang dihadapi pulau terpencil seperti Enggano di Bengkulu. Begitu malam tiba, suasana langsung gelap gulita.

"Di mana-mana gelap. Di sini listrik nggak ada. Beberapa warga yang mampu beli diesel. Itupun hanya menyala dari jam enam sampai sepuluh," kata Jiwa Palamarta, salah satu anggota tim Kodal (Komando Pengendali) II Ekspedisi Garis Depan Nusantara yang tiba di Enggano Selasa (13/5) pagi. Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit karena untuk membeli solar sebulan menghabiskan sekitar Rp500.000.

Pulau yang berada di sebelah barat Kota Bengkulu itu memang belum terjangkau jaringan pembangkit listrik. Tiga anggota tim Kodal (Komando Pengendali) II dan dua wartawan Kompas, Lucky Pransiska dan Iwan Santosa, terpaksa harus mengahiri petualangannya di hari pertama.

Sejak tiba tadi pagi, tim langsung melakukan observasi ke sejumlah sudut pulau. Beberapa informasi telah berhasil dikumpulkan termasuk bertandang ke rumah pemuka masyarakat. Antara lain, informasi bahwa penduduk Enggano rata-rata hidup dari kebun coklat yang hasilnya dijual ke Bengkulu.

"Di sini itu ada 6 suku, 5 suku asli dan 1 suku pendatang," ujar Jiwa. Ia menjelaskan suku pendatang berasal dari Jawa Barat, tepatnya dari Serang, Banten. Mereka pertama kali masuk tahun 1934 saat melarikan diri dari kapal Belanda. Kedatangan orang Banten baik diterima Suku Kauno, penduduk asli pulau tersebut sehingga kemudian diikuti orang-orang Banten lainnya.  

Jiwa mengatakan Enggano memiliki pantai yang indah, baik dengan pasir putih maupun pasir hitam. Namun, mereka tidak akan mengelillingi seluruh pelosok pulau yang luasnya mencapai 40 hektare tersebut.

"Rencana di sini sampai 5-7 hari. Dari Enggano, kita kembali ke Bengkulu kemudian Medan," jelas Arif Faturohman, koordinator Kodal II. Di Enggano, tim akan melakukna pendataan desa-desa, suku budaya, dan survei lokasi untuk penempatan tugu Soekarno-Hatta. Dari pertemuan dengan kepala desa setempat, tim mendapat informasi bahwa di Enggano telah terdapat sebuah monumen yang dibangun tahun 1962.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau