JAKARTA, SELASA - Listrik merupakan masalah utama yang dihadapi pulau terpencil seperti Enggano di Bengkulu. Begitu malam tiba, suasana langsung gelap gulita.
"Di mana-mana gelap. Di sini listrik nggak ada. Beberapa warga yang mampu beli diesel. Itupun hanya menyala dari jam enam sampai sepuluh," kata Jiwa Palamarta, salah satu anggota tim Kodal (Komando Pengendali) II Ekspedisi Garis Depan Nusantara yang tiba di Enggano Selasa (13/5) pagi. Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit karena untuk membeli solar sebulan menghabiskan sekitar Rp500.000.
Pulau yang berada di sebelah barat Kota Bengkulu itu memang belum terjangkau jaringan pembangkit listrik. Tiga anggota tim Kodal (Komando Pengendali) II dan dua wartawan Kompas, Lucky Pransiska dan Iwan Santosa, terpaksa harus mengahiri petualangannya di hari pertama.
Sejak tiba tadi pagi, tim langsung melakukan observasi ke sejumlah sudut pulau. Beberapa informasi telah berhasil dikumpulkan termasuk bertandang ke rumah pemuka masyarakat. Antara lain, informasi bahwa penduduk Enggano rata-rata hidup dari kebun coklat yang hasilnya dijual ke Bengkulu.
"Di sini itu ada 6 suku, 5 suku asli dan 1 suku pendatang," ujar Jiwa. Ia menjelaskan suku pendatang berasal dari Jawa Barat, tepatnya dari Serang, Banten. Mereka pertama kali masuk tahun 1934 saat melarikan diri dari kapal Belanda. Kedatangan orang Banten baik diterima Suku Kauno, penduduk asli pulau tersebut sehingga kemudian diikuti orang-orang Banten lainnya.
Jiwa mengatakan Enggano memiliki pantai yang indah, baik dengan pasir putih maupun pasir hitam. Namun, mereka tidak akan mengelillingi seluruh pelosok pulau yang luasnya mencapai 40 hektare tersebut.
"Rencana di sini sampai 5-7 hari. Dari Enggano, kita kembali ke Bengkulu kemudian Medan," jelas Arif Faturohman, koordinator Kodal II. Di Enggano, tim akan melakukna pendataan desa-desa, suku budaya, dan survei lokasi untuk penempatan tugu Soekarno-Hatta. Dari pertemuan dengan kepala desa setempat, tim mendapat informasi bahwa di Enggano telah terdapat sebuah monumen yang dibangun tahun 1962.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang