Bang Yos Kampanye di Depan Din dan Soetrisno Bachir

Kompas.com - 14/05/2008, 01:22 WIB

JAKARTA, SELASA - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, sangat percaya diri dalam pencalonannya sebagai presiden. Bahkan, di depan dua tokoh yang juga disebut-sebut akan maju dalam Pilpres 2009, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Ketua Umum PAN, Soetrisno Bachir, Sutiyoso tak ragu berkampanye. Pemandangan itu terjadi saat Sutiyoso mendapat kesempatan memberikan sambutan dalam peluncuran buku Amien Rais berjudul Agenda Mendesak Bangsa; Selamatkan Indonesia di Gedung Serbaguna, Senayan, Jakarta, Selasa (13/5).

"Masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini harus direspon, terutama oleh seorang capres. Andaikata saya dikasih kesempatan, saya akan respon pemikiran pak Amien dalam buku ini," ujar Sutiyoso yang disambut tepukan dan tawa hadirin.

Bang Yos yang sebelumnya mendapat kunjungan dari Dubes Australia dan Amerika Serikat, juga menyatakan bahwa seorang pemimpin modern harus selalu berpikir positif dalam menerima kritik. "Jangan alergi dikritik. Saya juga mengharap pak Amien tidak boleh pensiun untuk ngurus bangsa ini," ujarnya.

Pengamat politik Effendy Ghazali yang didapuk sebagai moderator melontarkan sindiran menyoal pedenya Bang Yos berkampanye. Penggagas acara Republik Mimpi itu mengatakan, jika Soetrisno Bachir dalam sejumlah iklannya baik di baliho maupun di televisi punya jargon Hidup adalah Perbuatan, Bang Yos kata dia, harus punya jargon yang mirip.

"Bang Yos harus berprinsip bahwa hidup adalah perebutan. Perebutan Piala Thomas dan Uber (Bang Yos adalah Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia). Juga, perebutan kekuasaan pada 2009 mendatang," ujar Effendy.

Soetrisno Bachir yang tengah gencar beriklan, baik itu lewat baliho raksasa di sejumlah titik di jalan Jakarta dan iklan televisi, yang oleh pengamat disebut sebagai bagian awal dirinya maju di Pilpres 2009, belum mau blak-blakan. Sehari sebelumnya saat ditemui di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait Pilpres, Soetrisno hanya mesem-mesem. "Tentang Pilpres 2009? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang," ujarnya dengan tawa.

Sementara Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin yang sebelumnya dijagokan Partai Matahari Bangsa (PMB) sebagai presiden, mengaku belum memutuskan untuk maju di Pilpres 2009 mendatang. "Saya belum memutuskan. Itu jawaban saya," kata Din.

Din mengaku, sampai saat ini dirinya masih berkonsentrasi membangun amanat organisasi, Muhammadiyah. Sebelumnya, selain digadang-gadang bakal diusung PMB, Din juga disebut akan disandingkan dengan Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri sebagai calon wakil presiden karena kedekatannya dengan PDIP melalui Baitul Muslimin. (Persda Network/had)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau