Sekolah Internasional, Gengsi atau Kualitas?

Kompas.com - 14/05/2008, 09:30 WIB

    Menyekolahkan anak di sekolah berkurikulum internasional makin banyak dipilih para orangtua. Persiapan menghadapi persaingan global ataukah sekedar gengsi?

    Bangunan sekolah yang megah, fasilitas pendukung super lengkap, guru-guru yang "dimpor" dari luar negeri, serta bahasa Inggris sebagai pengantar, bahkan juga bahasa asing lainnya, merupakan salah satu ciri sekolah internasional yang kini menjadi pilihan sekolah masa kini.

    Semua "keunggulan" tersebut kini banyak dicari para orangtua yang ingin anak-anaknya mendapat pendidikan terbaik. Salah satunya adalah Paramita (39), yang memasukkan putra sulungnya, Edwin (7) di Jakarta Singapore School. Meski harus mengeluarkan biaya cukup mahal, sekitar 4000 dollar Singapura per dua semester, namun Paramita mengaku sangat puas dengan kemajuan yang dicapai oleh Edwin.

    "Biaya yang saya keluarkan sepadan dengan hasilnya. Bila berkomunikasi Edwin kini otomatis berbahasa Inggris, ia juga mengerti bahasa mandarin yang memang diajarkan di sekolahnya," ucap Paramita, yang memang berencana agar Edwin melanjutkan SMP nya di Singapura.

Siap-Siap ke Dunia Internasional
    Kelebihan sekolah internasional dibandingkan dengan sekolah umum adalah adanya kurikulum yang berbasis standar internasional.

    Menurut psikolog Jacinta F. Rini, Msi, idealnya sekolah internasional mempersiapkan anak didiknya untuk memiliki kepribadian dan wawasan yang "internasional" setara dengan anak-anak di belahan dunia lain, termasuk juga nilai dan etikanya. "Jadi bukan hanya pintar dan cerdas, apalagi kalau hanya pintar menghapal," ujarnya.

    Kalau kita mau jujur, zaman sekarang masih banyak sekolah, guru, kurikulum, yang memberi pelajaran yang tak terlalu bermanfaat buat masa depan anak. Cara-cara yang dipakai juga masih satu arah, kurang menstimulasi daya pikir anak, dan kurang memberi kebebasan pada anak untuk beropini dan berkreasi.

    Menurut Jacinta, dengan pola belajar demikian, anak akan mengalami tantangan besar kalau ia berada di "dunia internasional" karena mentalitasnya tidak siap dalam mengelola kebebasan.

    "Kalau terbiasa diperintah, belajar berdasarkan instruksi, jawaban ulangan harus persis di buku, maka ketika pindah ke tempat yang memberi kebebasan penuh untuk berkreasi, kita malah sering grogi dan stres berat," paparnya. Singkatnya, kita akan lebih suka diperintah daripada tidak tahu mesti mengerjakan apa.

    Nah, sekolah internasional idealnya memberikan bekal bagi anak didiknya agar siap terjun menghadapi persaingan global. Oleh karena itu, sebelum memilih suatu sekolah, sebaiknya perhatikan apakah pemilik sekolah dan pengelolanya mengetahui apa yang dimaksud dengan internasional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau