Data Lama BLT Bisa Picu Keributan

Kompas.com - 14/05/2008, 22:43 WIB

KLATEN, RABU- Pemerintah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah,  mengkhawatirkan terjadinya kericuhan pada saat pencairan dana bantuan langsung tunai (BLT). Sebab, data penerima bantuan yang digunakan adalah data tahun 2005 yang sudah tidak valid dengan kondisi sekarang.

"Kami mengalami kebingungan, karena pemerintah pusat melalui surat edaran Menteri Dalam Negeri (Mendagri) memerintahkan penggunaan data penerima BLT tahun 2005 sebagai acuan penerima program BLT,"  kata Kepala Bagian Sosial pada Sekretariat Daerah Pemkab Klaten Rantiman, di Klaten Rabu (14/5).

Surat edaran Mendagri tersebut diterima lewat faksimili pada hari Senin lalu. Isisnya memerintahkan penggunaan data BLT tahun 2005 sebagai acuan penerima program itu. "Begitu mendapat edaran itu, kami bersama BPS langsung menggelar rapat koordinasi," katanya. Akan tetapi, pihaknya tidak bisa berbuat banyak, mengingat masalah BLT itu sudah merupakan instruksi nasional yang harus dijalankan.

Menurut dia, data penerima BLT tahun 2005 yang merupakan data keluarga miskin (Gakin) di Pemda Klaten telah berubah. Pemda juga telah melakukan pendataan Gakin baru sebagai penerima jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) dan jaminan kesehatan daerah (Jamkesda).

Ia berharap ada solusi bagi penggunaan data baru Gakin yang telah mereka verifikasi dan validasi sehingga selain data 2005 yang dipakai sisanya bisa diambail dari Jamkesmas dan Jamkesda. 

Bupati Klaten Sunarna menyarankan agar selain BLT diadakan pula alternatif lain dari konsekuensi kenaikan harga BBM. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau