Jakarta Perlu Meniru Kearifan Bandung soal Kuda...

Kompas.com - 16/05/2008, 11:13 WIB

Nasib komunitas kuda di Bandung ternyata lebih baik ketimbang di Jakarta. Warga Kota Kembang memberi tempat pemilik kuda untuk
beroperasi di tengah kota, dengan syarat tertentu. Hasilnya, Bandung makin memiliki daya tarik wisata, pemilik kuda pun mendapat penghasilan. Dampak positif selanjutnya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandung pun bertambah dari sektor wisata karena banyak orang berwisata ke Bandung.
    
Ingin melihat dan merasakan? Pergilah ke Taman Lansia, dekat Gedung Sate atau Tamansari (kawasan kampus Institut Teknologi Bandung). Jangan heran, sebagian besar konsumen penunggang kuda adalah warga Jakarta. Selain belanja di factory outlet, wisatawan Jakarta juga ingin merasakan tarikan kuda.
   
Delman (warga Bandung menyebutnya kereteg) hanya boleh beroperasi di Tamansari dan Taman Lansia tiap Sabtu, Minggu, dan libur
nasional. "Kami hanya boleh beroperasi di perempatan Jalan Cisangkuy-Cimanuk hingga bagian belakang Taman Lansia," jelas Wawan, pengurus Wisata Kuda Cisangkuy, Bandung.
   
Jadilah kawasan seluas 2.000-an meter persegi tersebut arena berkuda. Seperti yang berlangsung Sabtu dan Minggu (26-27 April), suasana gembira terpancar dari taman tersebut. Gelak tawa ditingkahi derap langkah kuda mencerminkan keceriaan anak-anak generasi ini. Anak-anak menunggang kuda dengan riang. Di antara mereka ada Prita (6), warga Matraman, Jakarta Timur.
   
Di tepi taman, Raharja, ayah Prita mengawasi putrinya. "Jatah dia lima putaran," ujar Raharja. Semula Prita takut naik kuda, tetapi
sekarang ia justru ingin berkuda sendirian.
   
Keluarga muda lain dari Jakarta juga terlihat di taman itu. "Di Jakarta sulit cari rekreasi begini," tutur Andi, warga Tomang, Jakarta Barat, yang mengajak anaknya, Sherina (9).
   
Di Taman Lansia dan Tamansari terdapat lebih dari 145 kuda tunggang dan kereteg. Di Tamansari setiap akhir pekan beroperasi sekitar 50 kuda tunggang dan 10-an kereteg. Adapun di Taman Lansia ada 90 kuda tunggang, lima kereteg dan empat becak mini. Pemilik kuda sepakat membagi waktu operasi kuda menjadi dua.
   
Separuh kuda pada hari Sabtu, separuh lagi pada hari Minggu. Inilah salah satu bentuk kearifan pemilik kuda dan delman dalam berbagi rezeki di antara mereka. Dan, itu juga merupakan buah kearifan Pemerintah Kota Bandung yang tetap memberi toleransi bagi kuda-kuda dan pemiliknya untuk tetap bisa mengisi bagian ruang Kota Bandung.
   
Keadaan demikian belakangan ini dirindukan oleh pemilik delman Jakarta yang sekarang dipaksa minggir dari kawasan wisata Monas
Jakarta lantaran kotoran dan kencing kuda yang tidak boleh menetes di Jakarta, kota metropolitan.Praktis pemilik kuda dan delman yang selama ini menggantungkan nafkah dari Monas kelimpungan membiayai keluarga mereka. Mereka nganggur.
   
Pemilik kuda di Bandung umumnya petani sayur. Dari mengoperasikan kuda mereka mendapat penghasilan sampai Rp 200.000 per hari.

Kuda bercelana

   
Untuk menjaga kebersihan, semua kuda tunggang di Taman Lansia dan Tamansari harus ber-"celana" dari ban bekas.Benda ini dipasang di
ujung dubur hewan itu untuk menampung kotoran kuda. Ihwal pemakaian celana kuda itu menurut dosen Institut Teknologi Nasional Bandung, Jamaludin Wiartakusumah, berawal dari ide mencegah kotoran kuda agar tidak berserakan di jalan.
   
Sejumlah mahasiswa ITB angkatan 1986-1987 yang biasa berkumpul di Masjid Salman membuat lomba celana kuda. "Pemenang pertama Nedina Sari yang membuat celana kuda murah meriah dari ban bekas. Juara kedua, Goy Gautama," kata Jamal, alumnus ITB angkatan 1988. Nedina kini menjadi dosen di ITB.
   
Kini setiap kuda tunggang pasti bercelana seharga sekitar Rp 30.000. Upaya itu membuat Bandung relatif bersih dari kotoran kuda. Ini bisa dilihat di Taman Lansia, sementara di Tamansari ceceran kotoran kuda masih tampak karena karung penampung kotoran di kereteg sering sudah berlubang sehingga kotoran di dalamnya tumpah ke jalan.
  
Joyce Tamzil, pengelola Cafe Sweet Corner di Jalan Cisangkuy mengakui tamunya sering memprotes bau kencing kuda. "Tapi soal itu
bisa dirundingkan dengan pemilik kuda. Misalnya, kencing kuda langsung disiram air dan kalau bisa ditambah karbol," katanya. Joyce mendukung pemberdayaan kuda karena di negara tujuan wisatawan seperti Venezia dan Italia, naik kereteg menjadi favorit.
   
Mestinya Jakarta belajar ke Bandung, bila perlu ke Italia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau