Fogging Tak Efektif Berantas DBD

Kompas.com - 17/05/2008, 15:58 WIB

SEMARANG, SABTU - Departemen Kesehatan mengingatkan, pengasapan atau "fogging" amat tidak efektif untuk memberantas penyakit demam berdarah dengue (DBD), bahkan malah berbahaya karena bisa  menimbulkan resistensi terhadap nyamuk "aedes aegypti".
    
Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Departemen Kesehatan, Erna Tresnaningsih di Universitas Diponegoro Semarang, Sabtu mengatakan, pengasapan hanya bisa melenyapkan nyamuk dewasa namun tidak terhadap telur nyamuk yang jumlahnya ribuan.

"Nyamuk dewasa satu mati namun ribuan telur nyamuk tetap hidup dan berkembang. Nanti nyamuk bisa resisten (kebal)," katanya usai menjadi pembicara dalam "International Symposium and Workshop on Infectious and Tropical Diseases 2008" di Gedung Prof. Soedharto, Undip Tembalang.
     
Kegiatan ilmiah ini dihadiri sejumlah pakar dari sejumlah negara. Selain membahas masalah DBD, simposium ini juga menelaah penyaki flu burung, HIV/AIDS, dan leptospirosis, yang berlangsung hingga Minggu (18/5). Erna mengatakan, selama ini masyarakat sering mendesak di wilayahnya disemprot agar terbebas dari nyamuk pembawa penyakit DBD, padahal pengasapan tersebut tidak efektif dan menyisakan residu pestisida yang tidak sehat bagi lingkungan. Pengasapan, katanya, tidak mampu mematikan telur-telur nyamuk DBD.
      
Menurut dia, lebih bijaksana mencegah serangan DBD dengan menerapkan pola hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan. Nyamuk aedes menyukai genangan air bersih sehingga untuk menghindari berkembang biaknya, semua media berkembang biak nyamuk ini harus dihilangkan.

Ia menyebutkan, pot-pot bunga yang ada genangan air, kemudian bagian bawah dispenser dan kulkas juga harus sering dibersihkan, sebab tempat itu dijadikan nyamuk aedes untuk bertelur dan berkembang biak.

Erna mengakui, jumlah kasus DBD di Indonesia dari waktu ke waktu terus bertambah, tetapi jumlah korban jiwa akibat serangan penyakit berbahaya ini cenderung menurun bersamaan dengan terus membaiknya penanganan penderita DBD.
     
Prevalensi penyakit ini pada tahun 2007 tercatat 71 orang per 100.000, sedangkan korban meninggal mencapai 1,010 persen per 100 penderita. "Pemerintah menargetkan menurunkan angka kematian akibat DBD ini hingga di bawah 1,0 persen," kata Erna.
     
Ia menambahkan, jumlah kasus berhubungan sangat erat dengan jumlah penduduk di suatu daerah karena itu kasus DBD terbanyak juga terdapat di daerah-daerah padat, seperti di Jawa dan Bali.
    
Sementara itu, pembicara P. Koraka, P.hD. memaparkan, upaya menemukan vaksin DBD sudah dimulai sejak 1945 oleh Sabin namun hingga sekarang belum juga diperoleh hasil yang memuaskan meskipun penelitian terus dilakukan hingga hari ini.
     
"DBD memang menjadi masalah utama kesehatan masyarakat dan penyakit ini faktanya memang sulit dikontrol serta tidak mungkin dihilangkan," katanya. Karena itu, menurut Koraka, riset untuk menemukan vaksin DBD terus dilakukan. Korban jiwa akibat DBD di dunia setiap tahunnya mencapai 500.000 orang dan menyerang sekitar 50 juta penduduk dunia. "Saya masih memiliki harapan (ditemukannya) vaksin itu," katanya.
 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau