Sandra Dewi: Oom Sophan seperti Bapak Saya...

Kompas.com - 18/05/2008, 06:30 WIB

"AKU sempat bengong sebentar waktu dapat kabar Oom Sophan Sophiaan meninggal. Tadinya aku pikir bukan Om Sophan. Habis di pengumumannya disebutin Bapak Sophan Sophiaan."

Begitu komentar Sandra Dewi saat disinggung tentang kepergian aktor kawakan Sophan Sophiaan yang menghadap Yang Maha Kuasa, Sabtu (17/5).

Bagi Sandra, almarhum adalah sosok seorang ayah yang telah mengajarkannya banyak ilmu. Tidak hanya soal dunia akting tapi juga tentang kehidupan. Sandra pun punya panggilan khusus terhadap suami aktris Widyawati itu.

"Orang-orang kan panggil beliau Om Sophiaan. Tapi kalo aku manggilnya om Sophan. Karena Sophiaan itu nama bapaknya," ujar Sandra saat ditemui di gedung Pembinaan, Pangkalpinang, Babel, Sabtu (17/5) malam.

Sandra menuturkan kedekatannya dengan Sophan Sophiaan terjalin saat keduanya terlibat dalam sinetron Elang yang ditayangkan setiap Jumat di salah satu stasiun televisi swasta. Selama kegiatan syuting, Sandra mengenal Sophan sebagai aktor yang selalu tepat waktu.

"Kalau syuting mulainya jam 08.00, beliau pasti sudah datang jam 07.45. Pokoknya selalu tepat waktu deh," katanya dara kelahiran Pangkalpinang 8 Agustus 1983 itu. Sandra pun meniru Sophan dalam hal disiplin.

Satu pesan Sophan yang diingat Sandra dalam dunia akting. "Aku sempat tanya,' gimana sih jadi aktor andal seperti dia'. Dijawabnya, 'kamu enggak perlu sekolah akting, tapi kamu cuma perlu memerankan tokoh orang lain dengan gaya kamu sendiri'," kata Sandra yang juga memiliki kenangan indah selama syuting bersama Sopan.

"Dia selalu makan bareng aku kalo di lokasi syuting. Satu makanan favorit dia yang aku ingat yaitu pizza," imbuhnya seraya memperilihat foto kenangan bersama Sophan di handphone yang dimilikinya.

"Aku juga masih nyimpan foto Oom Sophan sama tante Widya waktu masih muda," kata Sandra.

Dengan segudang pengalaman indahnya, Sandra tentu merasa kehilangan atas meninggalnya Sophan. Pertemuan terakhir Sandra dengan Sophan di acara peluncuran sinetron Elang menjadi kenangan terakhir untuk dirinya.

"Setidaknya om Sophan meninggal karena menjalankan hobinya. Dia dulu juga sering cerita tentang hobinya mengendarai motor gede, kayak Harley Davidson gitu," tandas Sandra. (Persda Network/mun)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau