Berebut Ingin Menjadi Tamu Presiden RI

Kompas.com - 18/05/2008, 08:24 WIB

Mengunjungi Istana Kepresidenan berarti menjadi tamu Presiden RI, begitulah sesungguhnya. Ini dinyatakan Endang Sumitra, Kepala Sub-Bidang Kerumahtanggaan dan Protokoler Istana Bogor, yang ditemui, Jumat (16/5) siang di kantornya di kompleks Istana Bogor, Jalan Ir Juanda, Kota Bogor.

”Warga masyarakat yang berkunjung ke sini hakikatnya adalah tamu Bapak Presiden. Kewajiban kamilah, atas nama Kepala Rumah Tangga Kepresidenan, melayani tamu-tamu Bapak Presiden dengan sebaik-baiknya. Itu juga amanah dari Bapak Presiden,” katanya.

Nah, Pemerintah Kota Bogor bekerja sama dengan Istana Kepresidenan Bogor, yang populer dengan nama Istana Bogor, memberi kesempatan warga masyarakat luas untuk menjadi tamu Presiden RI, sepanjang hari pada jam kerja mulai tanggal 19 Mei sampai 29 Mei.

Ini adalah kali keempat, sejak tahun 2004, Pemerintah Kota Bogor dan Istana melaksanakan Istana Bogor Open, berkaitan dengan peringatan hari jadi Bogor.

Dari tahun ke tahun yang berminat mengunjungi Istana Bogor meningkat. Mereka berebut berkunjung. ”Tahun 2007 lalu, kami menargetkan 9.000 pengunjung, yang datang mencapai 26.000 tamu. Sekarang pada hari jadi Bogor ke-526, ditargetkan 10.000 pengunjung,” kata Iyan Sofiyan, staf Humas Pemerintah Kota Bogor.

Sampai Jumat siang kemarin, 7.000 lembar tanda masuk ke Istana Bogor Open Tahun 2008 sudah habis. Dari catatan yang dibuat panitia pendaftaran di Bagian Protokoler Balai Kota Bogor, mereka yang berminat menjadi tamu Presiden RI di Istana Bogor itu berasal dari Jabodetabek, kota-kota sekitarnya.

Tanda masuk ke Istana Bogor dapat diperoleh juga pada saat Istana Bogor Open berlangsung. Peminat dapat menghubungi panitia yang buka tenda di halaman Gedung DPRD Kota Bogor di Jalan Kapten Muslihat, Bogor Tengah.

Dari lokasi itu pula rombongan calon tamu Presiden berjalan kaki menuju Istana Bogor, yang berjarak sekitar 200 meter.

”Kami siap melayani tamu-tamu Presiden dengan mengantarnya melihat-lihat Istana Bogor, mulai dari sisi barat, gedung utama, dan berakhir di sisi timur Istana,” tutur Endang Sumitra.

Lalu, apa yang dapat dilihat di dalam Istana Bogor? Tentu saja koleksi perabot rumah tangga antik atau barang seni, baik berupa lukisan, patung/pahatan, maupun guci. Menurut Endang, prabot rumah tangga itu didatangkan ke istana sekitar tahun 50-an oleh Presiden RI I Soekarno, yang selanjutnya digunakan presiden-presiden selanjutnya.

Hingga kini kondisi perabot kayu jati pilihan gaya tempo dulu itu masih terawat baik.

Gedung utama Istana Bogor terdiri dari ruang kerja presiden, ruang perpustakaan, ruang film, ruang makan, Ruang Teratai, dan Ruang Garuda. Kecuali ruang film yang sudah tidak difungsikan, ruang-ruang lainnya dipakai sebagaimana fungsinya saat Presiden berada di Kota Bogor, untuk bekerja dan menerima tamu-tamu negara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau