Kenaikan Harga BBM Menambah Sengsara Rakyat

Kompas.com - 18/05/2008, 20:29 WIB

SEMARANG, MINGGU - Rencana pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak atau BBM justru akan menambah sengsara rakyat. Di tengah situasi perekonomian yang masih lesu, rencana pemerintah itu tidak layak direalisasikan.

Demikian dikatakan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin saat memberi ceramah pada Pengajian Ranting Muhammadiyah se-Jawa Tengah di Masjid Agung Jawa Tengah, Minggu (18/5). Daya beli masyarakat kita sudah melemah. Jika pemerintah menaikkan harga BBM, ini justru semakin menyengsarakan rakyat, ujar Syamsuddin.

Syamsuddin mengatakan, opsi pemerintah menaikkan harga BBM bukanlah pilihan tepat. Opsi itu justru akan menyeret harga barang-barang lain untuk naik. Bahkan, sudah banyak harga barang-barang yang naik lebih dahulu sebelum harga BBM dinaikkan pemerintah, katanya.

Tidak hanya rakyat kecil, imbuh Syamsuddin, para pengusaha juga akan mengalami kesulitan akibat naiknya harga BBM. Dikhawatirkan, kenaikan tersebut akan memicu terjadinya pemutusan hubungan kerja buruh besar-besaran.

Di hadapan ribuan massa Muhammadiyah, Syamsuddin mengatakan, pemerintah seharusnya bisa mengambil keuntungan dari naiknya harga minyak dunia. Sebagai salah satu negara produsen minyak, sungguh ironis jika harga minyak dalam negeri justru naik. "Ini akibat strategi perminyakan kita tidak tepat. Beginilah jadinya," kata Syamsuddin.

Syamsuddin mengusulkan, pemerintah sebaiknya membatalkan rencana kenaikan harga BBM. Selanjutnya, pemerintah harus segera melakukan pengendalian harga dan pengawasan pasar.

Terkait dengan rencana pemerintah menyalurkan bantuan langsung tunai (BLT) sebagai subsidi kepada rakyat miskin, Syamsuddin menilai, rencana tersebut sulit berhasil. Berkaca pada pengalaman tahun 2005, penyaluran BLT tidak pernah adil, tidak pernah merata. "Jadi, ini bukan sebuah solusi," ungkapnya.

Syamsuddin menegaskan, Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi massa terbesar di Indonesia, akan membela pemerintah di garis terdepan jika pemerintah berjalan sesuai konstitusi. Sebaliknya, jika pemerintah berjalan tidak baik, Muhammadiyah akan memberi peringatan. (A03)   

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau