BANDAR LAMPUNG, SENIN - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), terutama jenis premium (bensin), terus berlanjut hingga Senin (19/5) di Bandar Lampung. Akibat BBM masih sulit didapat, warga yang semula menggunakan mobil untuk mendukung aktivitas kini memutuskan untuk "beralih menggunakan angkutan kota (angkot).
Pantauan di Bandar Lampung, Senin, menunjukkan, antrean kendaraan roda empat dan sepeda motor di sejumlah SPBU di Bandar Lampung masih terjadi sejak Senin pagi, di antaranya di SPBU Jl by pass Soekarno-Hatta di dekat RS Imanuel Bandar Lampung, SPBU Kalibalok di Jl Antasari, SPBU Jl Diponegoro Telukbetung, dan beberapa SPBU lainnya.
Akibat kondisi kelangkaan BBM, terutama premium, disusul pertamax dan solar di beberapa SPBU, menimbulkan lonjakan harga eceran premium yang melampaui kewajaran di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Lampung.
Harga eceran bensin yang biasanya tidak lebih Rp 6.000 per liter, tiba-tiba melonjak menjadi Rp 9.000 per liter, bahkan di beberapa tempat melebihi angka Rp 10.000 per liter, melampaui harga BBM jenis pertamax.
"Nggak tahu kenapa harga eceran bensin itu jadi tidak terkendali seperti itu, seharusnya tetap bisa dikendalikan supaya tidak makin menyusahkan rakyat seperti kami ini," kata Indra, warga Bandarlampung yang kecewa karena terpaksa membeli bensin eceran dengan harga melambung itu.
Sejumlah warga Kota Bandarlampung juga mengantisipasi masih langkanya BBM jenis premium itu, diantaranya dengan menghemat penggunaan BBM yang masih tersedia pada kendaraan mereka, dengan menghindari bepergian yang tidak benar-benar penting.
Beberapa warga bahkan memutuskan untuk sementara "mengandangkan" mobil yang dimiliki dan biasa digunakan untuk antar jemput keluarga dan keperluan lain, dengan mengganti sementara menggunakan sepeda motor yang dimiliki. "Sementara pakai sepeda motor dulu, biar lebih hemat, nanti kalau bensin sudah normal lagi baru digunakan mobil kembali," kata Adiansyah, warga Bandarlampung pula.
Beberapa pegawai pemerintah di Bandarlampung pada Senin yang masuk kerja, diantaranya mengaku memilih menggunakan angkutan umum (angkot), mengendarai sepeda motor dan tidak menggunakan mobil atau memilih naik ojek sepeda motor, supaya bisa lebih berhemat dan tidak harus terjebak antrean mendapatkan BBM di SPBU itu.
Warga justru mempertanyakan ketegasan Pemda dan dinas terkait di daerahnya, termasuk kejelasan dari Pertamina setempat, atas kondisi kelangkaan BBM yang terjadi sejak beberapa hari terakhir itu.
Beberapa warga mencurigai adanya pihak tertentu yang "bermanin" dan mengambil kesempatan di tengah kemungkinan dalam waktu dekat pemerintah akan menaikkan harga BBM, dengan melakukan penimbunan BBM untuk mendapatkan keuntungan besar, tapi menyusahkan orang banyak.
Karena itu, mereka mendesak aparat kepolisian harus segera bergerak menangani masalah kelangkaan BBM yang berdampak buruk bagi masyarakat banyak tersebut, untuk mengungkapkan kemungkinan terjadi "permainan" dan praktik tercela di balik kelangkaan BBM itu.