Bensin Langka, Warga Pilih Naik Angkot

Kompas.com - 19/05/2008, 11:33 WIB

BANDAR LAMPUNG, SENIN - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), terutama jenis premium (bensin), terus berlanjut hingga Senin (19/5) di Bandar Lampung. Akibat BBM masih sulit didapat, warga yang semula menggunakan mobil untuk mendukung aktivitas kini memutuskan untuk "beralih menggunakan angkutan kota (angkot).
    
Pantauan di Bandar Lampung, Senin, menunjukkan, antrean kendaraan roda empat dan sepeda motor di sejumlah SPBU di Bandar Lampung masih terjadi sejak Senin pagi, di antaranya di SPBU Jl by pass Soekarno-Hatta di dekat RS Imanuel Bandar Lampung, SPBU Kalibalok di Jl Antasari, SPBU Jl Diponegoro Telukbetung, dan beberapa SPBU lainnya.
    
Akibat kondisi kelangkaan BBM, terutama premium, disusul pertamax dan solar di beberapa SPBU, menimbulkan lonjakan harga eceran premium yang melampaui kewajaran di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Lampung.
    
Harga eceran bensin yang biasanya tidak lebih Rp 6.000 per liter, tiba-tiba melonjak menjadi Rp 9.000 per liter, bahkan di beberapa tempat melebihi angka Rp 10.000 per liter, melampaui harga BBM jenis pertamax.
    
"Nggak tahu kenapa harga eceran bensin itu jadi tidak terkendali seperti itu, seharusnya tetap bisa dikendalikan supaya tidak makin menyusahkan rakyat seperti kami ini," kata Indra, warga Bandarlampung yang kecewa karena terpaksa membeli bensin eceran dengan harga melambung itu.
    
Sejumlah warga Kota Bandarlampung juga mengantisipasi masih langkanya BBM jenis premium itu, diantaranya dengan menghemat penggunaan BBM yang masih tersedia pada kendaraan mereka, dengan menghindari bepergian yang tidak benar-benar penting.
     
Beberapa warga bahkan memutuskan untuk sementara "mengandangkan" mobil yang dimiliki dan biasa digunakan untuk antar jemput keluarga dan keperluan lain, dengan mengganti sementara menggunakan sepeda motor yang dimiliki. "Sementara pakai sepeda motor dulu, biar lebih hemat, nanti kalau bensin sudah normal lagi baru digunakan mobil kembali," kata Adiansyah, warga Bandarlampung pula.
    
Beberapa pegawai pemerintah di Bandarlampung pada Senin yang masuk kerja, diantaranya mengaku memilih menggunakan angkutan umum (angkot), mengendarai sepeda motor dan tidak menggunakan mobil atau memilih naik ojek sepeda motor, supaya bisa lebih berhemat dan tidak harus terjebak antrean mendapatkan BBM di SPBU itu.
    
Warga justru mempertanyakan ketegasan Pemda dan dinas terkait di daerahnya, termasuk kejelasan dari Pertamina setempat, atas kondisi kelangkaan BBM yang terjadi sejak beberapa hari terakhir itu.
    
Beberapa warga mencurigai adanya pihak tertentu yang "bermanin" dan mengambil kesempatan di tengah kemungkinan dalam waktu dekat pemerintah akan menaikkan harga BBM, dengan melakukan penimbunan BBM untuk mendapatkan keuntungan besar, tapi menyusahkan orang banyak.
    
Karena itu, mereka mendesak aparat kepolisian harus segera bergerak menangani masalah kelangkaan BBM yang berdampak buruk bagi masyarakat banyak tersebut, untuk mengungkapkan kemungkinan terjadi "permainan" dan praktik tercela di balik kelangkaan BBM itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau