Belum lama dibeli, buku pelajaran anak sudah jadi lusuh, kotor atau terlipat di sana-sini. Orangtua sering dongkol, apalagi bila sebetulnya buku itu bisa dipakai lagi oleh Si Adik pada tahun berikutnya.
Bila hal ini terjadi, konsultan pendidikan Emmy Soekresno mengatakan, sebaiknya katakan pada Si Kakak untuk hati-hati menggunakan bukunya, karena akan dipakai lagi oleh Si Adik. Misalnya, dengan menyampul buku secara rapi, menyusunnya di lemari buku, menjaganya agar tidak kotor dan lusuh, dan sebagainya.
Si Kakak juga diminta untuk mengerjakan soal di buku tulis, bukan di buku soal. Jadi, anak-anak memahami kalau mereka bisa menjaganya, buku itu bisa digunakan lagi oleh adiknya. "Kita tidak perlu membeli buku itu lagi. Sehingga, ada uang lebih untuk membeli buku lain yang diinginkan, atau ada tambahan buku bacaan untuk mereka setiap akhir semester atau kenaikan kelas," jelas Emmy.
Tak perlu membeli buku baru, imbuhnya, berarti memberi kesempatan pada siswa lain untuk membeli buku tersebut. Selain itu, juga ikut mendukung program ramah lingkungan yang prinsipnya adalah kurangi, pakai kembali, dan daur ulang (reduce, reuse, recycle). "Jadi, pohon-pohon tidak perlu banyak ditebang untuk membuat buku-buku baru," tandas perempuan yang juga menjadi narasumber untuk pelatihan dan seminar bagi guru dan orangtua di dalam dan luar negeri ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang