Standardisasi Hemat Energi Terlambat

Kompas.com - 19/05/2008, 23:56 WIB

JAKARTA, SENIN - Penggunaan berbagai perlengkapan rumah tangga maupun industri berlabel hemat energi sekarang makin marak. Namun, standardisasi untuk peringkat atau persentase kehematannya terlambat dilakukan pemerintah.

Demikian diungkapkan Kepala Balai Besar Teknologi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Oktaufik, Minggu (18/5) di Jakarta.

"Di Indonesia sampai sekarang tidak ada kelembagaan khusus pemerintah yang bisa menguji peringkat kehematan suatu teknologi pemanfaatan energi," kata Oktaufik.

Menurut dia, standardisasi hemat energi untuk mengetahui peringkat atau persentase kehematan teknologinya tidak hanya bermanfaat bagi konsumen. Namun, standardisasi ini juga menguntungkan industri yang menggunakan teknologi-teknologi lama karena standardisasi disertai mekanisme evaluasi untuk meningkatkan efisiensi atau penghematan energinya.

Oktaufik mencontohkan, Balai Besar Teknologi Energi beberapa tahun terakhir ini mengkaji sumber keborosan energi pada industri PT Krakatau Steel. Dari kajian tersebut, ditemukan desain lama boros sehingga diperbarui dan terjadi penghematan sekitar lima persen.

Direktur Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT Unggul Priyanto mengatakan, dalam kondisi ancaman krisis energi saat ini memang diperlukan mekanisme yang menunjang penghematan atau efisiensi pemanfaatan energi. Namun, dibutuhkan pula terobosan-terobosan penting untuk menciptakan teknologi energi yang makin optimal dan bermanfaat bagi masyarakat.

"Indonesia memiliki cadangan batu bara sampai 58 miliar ton. BPPT sekarang masih dalam riset dan pengembangan untuk menjadikan batu bara cair itu sebagai substitusi bahan bakar minyak, seperti bensin, solar, dan minyak tanah," kata Unggul. (KOMPAS/NAW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau