MEDAN, RABU – Kabut asap dari Provinsi Riau berembus ke wilayah Provinsi Sumatera Utara karena terbawa angin dari arah tenggara. Angin tersebut selanjutnya membawa kabut asap arah barat daya ke Malaysia.
“Dalam waktu dekat, kita siap-siap mendapat protes dari Malaysia. Ini baru fase awal dari musim kabut asap. Biasanya puncak kabut asap di Sumatera antara bulan Juli sampai Agustus,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi Balai Meteorologi dan Geofisika (BMG) Polonia, Medan, Firman, Selasa (20/5) di Medan.
Firman mengatakan kabut asap akibat pembakaran lahan di Sumut bercampur dengan mendung. Kepekatan kabut asap yang terjadi di Sumut, dari datanya, berfluktuasi dengan jarak pandang 2.000 sampai 4.000 meter. “Ini masih di ambang normal. Jika jarak pandang menyentuh 1.000 meter, bandara harus menghentikan operasionalnya demi keselamatan penerbangan,” katanya.
Untuk sementara, titik api akibat pembakaran lahan di Sumatera Utara hanya berkisar puluhan titik. Sementara di seluruh wilayah Sumatera tidak sampai 200 titik api. Pada pekan lalu, titik api sempat menembus angka 372 titik yang tersebar di seluruh Sumatera.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang