JAKARTA, RABU - Deni (20), warga Warungnangka RT 05 RW 06, Ciawi, Bogor, dikeroyok dua pria di pinggir Jalan Tol Jagorawi STA 42 B, Ciawi, Selasa (20/5) dini hari. Diduga, salah satu pengeroyok calon pengantin ini adalah pria yang cintanya ditolak Sumiyati (18), calon istri Deni.
Hingga semalam, pedagang sayur di kawasan Empang Bogor Selatan itu masih dirawat di RS PMI Bogor, ruang Kenanga. Menurut Deni, dini hari itu dia berjalan pulang di pinggir jalan tol. Di tengah keremangan, tiba-tiba punggungnya disabet senjata tajam oleh orang tak dikenal. Dia seketika tersungkur, sementara si penyerang kembali mengayunkan senjatanya dan mengenai kaki.
Meski terluka, Deni berusaha melawan. Melihat hal itu, para penyerang semakin kalap dan menyabetkan kembali senjata tajamnya. Deni menangkis sehingga tangan kanannya berlumuran darah. Karena Deni terus melawan, para penyerang akhirnya melarikan diri.
"Saya sempat berhadapan dengan penyerang yang ternyata dua pria. Tapi, saya tidak bisa mengenalinya karena bertopeng. Saya tidak berdaya dan jatuh di pinggir jalan tol. Tidak lama kemudian mobil patroli jalan tol menemukan saya dan membawa saya ke rumah sakit," kata Deni di RS PMI, Jalan Pajajaran, Bogor Tengah, Kota Bogor.
Akan Menikah
Pengeroyokan terhadap Deni itu terjadi seminggu menjelang hari pernikahannya dengan Sumiyati, pengamen di Terminal Baranangsiang. Kedua pihak sepakat pernikahan akan dilangsungkan di Cipanas, Kabupaten Cianjur. Sumiyati tidak dapat menahan tangis ketika mengetahui calon suaminya luka parah karena dianiaya dua lelaki. Saat ditemui, dia tengah sesenggukan di samping tempat tidur Deni di RS PMI. "Senin (19/5) malam saya tidak bisa tidur. Ternyata itu firasat Deni mengalami musibah," katanya.
Apakah yang menganiaya Deni itu pria yang cintanya ditolak Sumiyati? Sumiyati mengaku tidak berpikir ke arah itu meskipun mengakui selama ini ada dua pria yang pernah menyatakan cintanya dan keduanya dia tolak. (Warta Kota/AKN)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang