Hidayat Nur Wahid: BLT? Segera Cari Solusinya

Kompas.com - 21/05/2008, 16:21 WIB

BERBAGAI macam persoalan bangsa kini sudah ada di depan mata. Kegelisahan, kecemasan dan kegudahan rakyat terhadap rencana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), perlu dicarikan obatnya. Lalu apa yang harus diperbuat para pemimpin? Apa solusinya agar negeri ini benar-benar tentram dan rakyatnya sejahtera? Berikut jalan keluar yang  ditawarkan Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid saat bertanda ke kantor Tribun Kaltim, Rabu (21/5)?

BANTUAN Langsung Tunai (BLT) ini merupakan sesuatu yang sangat rawan. Mengapa? Karena trauma rakyat terhadap peristiwa masa lalu --ketidakadilan dalam pembagian, adanya kasus bunuh diri, hilangnya kepercayaan rakyat terhadap RT/RW, lahirnya kasus pemukulan dan lain- lain-- belum hilang dan saat ini telah terjadi penolakan di beragam tingkatan.

Menurut saya, kondisi saat ini merupakan sesuatu sangat dilematis. Saya juga enggak mengerti kenapa kebijakan semacam itu dilakukan kembali. Padahal, belum ada perbaikan mendasar terhadap data-data yang dulu pernah terjadi. Karena itu saya berharap masalah ini segera dicarikan solusinya. Minimal ada katagorisasi. Misanya, mereka yang jompo, lumpuh dan tidak bisa bekerja, tidak lagi disuruh antre, tetapi didatangi. Sedangkan bagi mereka yang hidupnya susah, harus dibuatkan program kerja supaya mereka bisa bekerja. Dengan bekerja derajatnya terangkat lalu menjadi terhormat.

Jadi orientasinya jangan hanya menerima ikannya saja, lalu mereka enak-enakan menjadi pengganguran  menerima duit dan uang itu juga tidak mereka pergunakan untuk sesuatu yang mensejahterakan dirinya. Mungkin sebaliknya, untuk foya-foya, untuk judi dan pada akhirnya mereka menjadi tergantung. Mudah-mudahan hal semacam ini tidak mengulangi tragedi masa lalu dan saya sudah sampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara langsung bahwa persoalan ini memerlukan koreksi mendasar. Ke depan BLT perlu dikaji secara serius dan pro rakyat.

Kita semuanya prihatin dengan kondisi keuangan negara, kondisi rakyat yang susah. Kita tidak punya pilihan kecuali harus bangkit. Sudah tahu di depan ada lubang, tentu alternatifnya bukan menjerumuskan diri ke dalam lubang itu, tetapi bagaimana kita menyemangati melompati lubang-lubang itu agar bisa selamat untuk diri kita dan menyelamatkan orang lain.

Kita tahu betapa beratnya kehidupan sekarang ini dengan kondisi utang negara, pola hubungan pusat dan daerah. Kita sangat khawatir BLT akan memunculkan penolakan-penolakan. Bupati menolak, gubernur menolak, lurah menolak. Ini akan menjadi apa Indonesia ke depan kalau pemerintah pusat tetap mengatakan agar BLT tetap dibayarkan. Saya kira ini masalah yang sangat serius. Coba bayangkan kalau pemerintah pusat ngotot dan pemerintah tidak mau, lalu apa jadinya?

Karena itu, sebelum semuanya menjadi bubur --kecuali bubur ayam masih enak dimakan dan yang basi tentu akan menjadi penyakit-- perlu ada terobosan. Sekarang ini kan tidak ada lagi lembaga tertinggi negara. Semuanya setara dan yang mempunyai kewenangan kontrol terhadap kinerja eksekutif kan DPR.

Pimpinan DPR segera mengundang pimpinan lembaga-lembaga negara untuk melakukan rapat konsultasi antar pimpinan lembaga negara. Rembuklah ini secara elegan, sehingga pemerintah tidak kehilangan muka dan bisa menyelesaikan masalah ini bareng-bareng.
Kedua, harus ada teroboson ditengah rakyat sedang susah, daya belinya sangat rendah dan trauma dengan masalah ekonomi. Lihat saja rekan-rekan RT/RW bahkan ada yang bunuh diri, dipukuli oleh warga dan mereka yang dulu sangat terhormat sekarang menjadi bermasalah.

Trauma itu masih ada. Demikian juga dampak kenaikan BBM sampai hari ini pun belum sepenuhnya hilang. Untuk itu perlu figur negarawanan untuk duduk bersama mencari solusi. Solusi itu untuk menyelamatkan rakyat Indonesia dan negara Indonesia. Bagaimana caranya? Hal itu bisa dilakukan melalui pemotongan dari anggaran belanja negara untuk lembaga-lembaga negara dan di departemen-departemen baik pusat maupun daerah. Secara umum anggaran belajar di tingkat departemen itu tidak ada yang terserap sampai 100 persen.

Terserapnya berkisar di angka 60-70 persen. Itu artinya, ada 30 persen tidak terserap dan dihabiskan dengan cara-cara tidak produktif. Untuk itu lebih baik dipotong saja 30 persen. Dan saya kira sekalipun dipotong 30 persen, mereka tetap saja melaksanakan programnya. Dan ini bisa dilakukan penghematan sangat signifikan, lalu tidak menyusahkan rakyat dengan menaikkan harga BBM. Ini saya kira sudah bisa dilakukan.

Selain itu, masalah BBM sekarang ini terkait dengan kinerja Menteri ESDM. Sebagai menteri yang sudah berbilang tahunan, berbilang presiden di pos yang sama, tetapi selalu saja dalam rentang waktu selama ini kalau ada gejolak BBM di luar negeri, negara-neara OPEC semakin makmur. Sedang Indonesia yang menjadi bagian dari negara OPEC, rakyatnya malah menjadi susah, konflik antar warga semakin tinggi, terjadi demontsrasi dan pemerintah semakin disalahkan rakyat. Saya berharap, kinerja Pak Menteri ESDM yang satu ini perlu dievaluasi oleh Presiden SBY.

Mengapa tidak bisa menghasilkan minyak lebih berkualitas, lebih banyak dan memperjuangkan kepentingan ekonomi dari minyak serta menjalankan policy diversifikasi BBM? Dan mengapa orientasi gas panas bumi tidak bisa dilanjutkan? Padahal Indonesia salah satu negara yang potensial menghasilkan gas terbesar di dunia. Kalau itu dilakukan bisa mengganti BBM. Kenapa ini tidak dilakukan? Mengapa? Jadi perlu dievaluasi.

Sekarang Presiden SBY mempunyai utusan khusus di Timor Tengah. Diantara anggota OKI dan OPEC ada negara-negara yang kaya seperti Saudi, Kuwait. Mengapa tidak ada lobi yang sangat kuat melobi negara-negara kaya minyak ini, supaya tetap menjual minyak dengan harga yang menguntungkan mereka 95 per barel? Kompensasinya adalah mereka diberi kesempatan berinvestasi seluas-luasnya dengan syarat selunak-lunaknya dengan kompensasi selisih harga minyak tadi. Kalau itu dilakukan, menguntungkan pihak mereka, pihak kita dan tidak menyusahkan rakyat kita... (tribun kaltim/bec/lia/jnh)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau