Pemapasan Curug Jompong Tidak Akan Atasi Masalahan Banjir Bandung

Kompas.com - 21/05/2008, 21:09 WIB

 

 

BANDUNG, RABU - Wacana pemerintah Provinsi Jawa Barat mengatasi genangan air banjir di daerah cekungan Bandung melalui pemapasan Curug Jompong tidak akan mengatasi permasalahan. Langkah tersebut justru akan menimbulkan permasalan baru, seperti erosi, terbuangnya sumberdaya air di cekungan Bandung, dan masuknya sedimentasi dalam jumlah besar ke Waduk Saguling.

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung T Bachtiar, Rabu (21/5) di Bandung mengungkapkan, bila pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) melakukan pemapasan Curug Jompong sedalam tiga meter, maka sedalam itu pula dasar Sungai Citarum akan tergerus. Akibatnya, terjadilah arus erosi ke hulu yang akan membawa jutaan kubik lumpur ke hilir.

"Aliran air akan bertambah cepat dan memicu erosi yang lebih cepat pula sehingga ekologi sungai akan rusak dan volume sedimentasi di Waduk Saguling cepat bertambah, " ungkap Bachtiar. Karena tingginya endapan lumpur di Waduk Saguling yang berlangsung tiba-tiba, maka volume air akan berkurang sehingga kapasitas listrik melemah.

Menurut Bachtiar, jika permukaan Curug Jompong diturunkan sekitar tiga meter, maka sedalam itu pula dasar Sungai Citarum akan tergerus ke hulu dan endapan lumpur sepanjang 30 kilometer akan berpindah ke Danau Saguling.

Manajer Lahan dan Waduk PLTA Saguling Djoni Santosa mengatakan, setiap tahun Waduk Saguling menerima endapan lumpur dari hilir sebanyak 4,2 juta meter3. Menurutnya, jumlah ini sudah melebihi kapasitas awal yang hanya 4 juta meter3 endapan per tahun. Bahkan, selama 23 tahun beroperasi, endapan yang telah masuk ke Waduk Saguling sebanyak 84,8 juta meter3.

"Kantong lumpur yang tersedia di Waduk Saguling sebesar 167, 7 juta meter3 dan sekarang sudah masuk 84,8 juta meter3. Jika penurunan Curug Jompong benar-benar terealisasi, maka waduk akan cepat terisi lumpur sehingga produksi listrik untuk Jawa dan Bali terancam berhenti, " kata Djoni.

Supervisor Senior Pemeliharaan Sipil PLTA Saguling Pitoyo Punu menambahkan, Waduk Saguling memiliki kapasitas sebesar 700 Mega watt. Kapasitas tersebut mampu memproduksi daya listrik sebesar 2.156 Giga watt hour. "Dengan keberadaan PLTA Saguling yang mengandalkan air sebagai penghasil energi, negara dapat menghemat sekitar 646,8 juta liter solar per tahun, " tambahnya.

Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda Sobirin mengatakan, banjir merupakan permasalahan kompleks. Karena itu, pemapasan Curug Jompong bukanlah satu-satunya solusi. Akar permasalahan banjir adalah terjadinya degradasi kawasan lindung di hulu. "Curug Jompong adalah benteng hilir cekungan Bandung yang harus dipertahankan, " ucapnya.

Menurut Sobirin, jumlah penduduk di cekungan Bandung hingga tahun 2005 mencapai 7 juta jiwa dan setiap tahun terus bertambah. Pertambahan jumlah penduduk ini memunculkan sejumlah pemukiman-pemukiman baru sehingga mengurangi kawasan lindung yang seharusnya menjadi lahan resapan air.

Karena itu, Pemprov Jabar harus mampu mengkoordinasi kabupaten dan kota yang berada di cekungan Bandung dan melakukan kebijakan pemulihan kawasan cekungan Bandung. Pemulihan kawasan yang ditawarkan Sobirin, antara lain pemeliharaan mata air, sungai , dan situ, perbaikan drainase air di perkotaan, serta pembuatan pemukiman daerah banjir dengan model rumah panggung.

Bachtiar menambahkan, pencegahan banjir di cekungan Bandung harus dilakukan secara sinergis mulai dari hulu ke hilir. Selain itu, pemerintah harus tegas membuat pembatasan wilayah cagar alam serta menggalakkan gerakan peremajaan tanaman secara serentak dan bukan sekadar seremoni belaka.(A01)  

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau