PM Badawi "Tegang"

Kompas.com - 22/05/2008, 09:13 WIB

KUALA LUMPUR, KAMIS - Perdana Menteri Abdullah Badawi tampak tegang menghadapi manuver Mahathir. Dia kembali melakukan pertemuan darurat dengan sejumlah pemimpin partai yang tergabung dalam Barisan Nasional untuk memastikan bahwa dukungan terhadapnya masih kuat.

Parlemen BN mengadakan pertemuan pada Rabu (21/5) kemarin. Sehari sebelumnya, Selasa, Perdana Menteri Badawi mengadakan pertemuan khusus dengan para anggota parlemen dari Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO). UMNO merupakan bagian dari koalisi partai-partai, yang tergabung dalam BN.

Sejumlah tokoh dari partai lain yang sama-sama bergabung dengan UMNO di BN meyakini UMNO di bawah kepemimpinan Badawi akan mampu mengatasi berbagai ujian.

”Secara keseluruhan, itu pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah UMNO, seperti juga sejarah partai-partai politik lainnya,” kata Pejabat Ketua Gerakan Dr Koh Tsu Koon, Selasa lalu.

Dalam sejarah UMNO, banyak mantan ketua yang kemudian keluar dari UMNO karena kecewa dengan penggantinya, tetapi rakyat Melayu Malaysia tetap setia mendukung UMNO. Faktor sejarah inilah yang diyakini banyak pengamat akan tetap bertahan. Kesempatan menjatuhkan perdana menteri belum pernah terjadi dalam sejarah Malaysia.

Terus beraksi
Mantan perdana menteri Mahathir Mohamad terus membujuk para anggota parlemen Malaysia agar sementara mundur dari koalisi Barisan Nasional yang berkuasa. Ini bertujuan memaksa perubahan kepemimpinan Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi.

”Ini adalah cara untuk memaksa Badawi mundur. Jika pemerintah tak lagi menjadi kekuatan mayoritas di parlemen, pemerintahan Badawi akan jatuh,” kata Mahathir dalam tulisan di situs pribadinya, Rabu.

Barisan Nasional memenangi 140 dari 222 kursi di parlemen pada pemilihan umum Maret lalu. Ini adalah untuk pertama kalinya BN kehilangan mayoritas dalam 40 tahun terakhir di parlemen.

Mahathir menyalahkan Abdullah atas kemunduran besar koalisi BN tersebut. Dia menganggap PM Malaysia itu seorang pemimpin yang lemah, menyuburkan nepotisme dan korupsi, serta tidak mampu menangani kekecewaan publik atas meningkatnya kriminalitas dan sengketa ras.

”Jika Barisan Nasional sudah menggantikan Abdullah dengan cara meninggalkan koalisi, mereka bisa meneruskan dukungan kepada Barisan Nasional tanpa Badawi kembali membentuk pemerintahan lagi,” tulis Mahathir.

Keputusan Mahathir (82) untuk mundur dari UMNO sejauh ini belum diikuti anggota-anggota parlemen dan tokoh-tokoh berpengaruh UMNO. Hanya putra Mahathir, Mokhzani, pada Rabu lalu menyatakan mundur dari UMNO. Akan tetapi, dia sudah tidak menduduki jabatan di UMNO.

Meski demikian, ajakan Mahathir tersebut memunculkan kekhawatiran lagi di kalangan koalisi BN. Beberapa waktu lalu pemimpin oposisi, Anwar Ibrahim, mengatakan bahwa oposisi mempunyai 30 anggota parlemen dari BN yang ingin menyeberang ke kubu oposisi. (Kompas/IHT/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau