JAKARTA, KAMIS - Pemerintah menggulirkan wacana penghapusan subsidi BBM. Dalam sebuah kesempatan, Kepala Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu mengatakan, pemerintah tengah mempertimbangkan untuk mengajukan kembali draf RUU Penghapusan Subsidi BBM. Ia bahkan mengharapkan wacana ini mulai dihembuskan kembali.
Menanggapi hal ini, pengamat ekonomi Yanuar Rizki menyatakan, wacana penghapusan subsidi BBM menunjukkan bahwa pemerintah tak memahami tentang filosofis dari subsidi.
Menurut Ketua Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) ini, subsidi sesungguhnya merupakan salah satu instrumen yang menunjukkan peran negara dalam menjaga keseimbangan ekonomi. Keseimbangan ekonomi yang dimaksudnya, ketika harga-harga naik dan pendapatan masyarakat tak mengikuti, maka subsidi merupakan alat untuk menyeimbangkannya.
"Apa kalau subsidi dihapuskan pemerintah mampu meyakinkan sistem ekonomi kita sudah baik? Apa pemerintah bisa menjamin ketika ada kenaikan harga, maka upah pekerja juga akan naik. Penghapusan subsidi menunjukkan hilangnya hati pemerintah dari kebijakan ekonomi yang diterapkannya. Pemerintah selalu bilang inflasi hanya naik 3 bulan pertama sejak adanya kenaikan harga. Tapi, apa pemerintah pernah secara jujur mengatakan bahwa dengan kenaikan harga itu konsumsi rumah tangga juga menurun?" papar Yanuar saat ditemui di sela-sela peluncuran Gerakan Nasional Tidak Pilih Politisi Busuk di Tugu Proklamasi, Jakarta, Kamis (22/5).
Pernyataan pemerintah bahwa pemberian subsidi secara merata kepada seluruh lapisan masyarakat justru menunjukkan ketidakadilan, karena juga dinikmati oleh kalangan kaya, menurut dia itu hanyalah trik pemerintah untuk mengaburkan makna subsidi.
"Dengan pernyataan itu, pemerintah melupakan multiplier effects-nya. Kalau BBM naik, pasti juga akan berimbas ke aspek lainnya, transportasi, dan sebagainya. Kalau subsidi dihapus, pengusaha berani menjamin nggak bahwa pendapatan masyarakat juga seimbang hingga bisa mencapai harga ekonomis. Pokoknya, kalau mau menghapus subsidi jawab dulu pertanyaan secara filosofis bahwa kita sudah memasuki era industrialisasi yang pas?" tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang