MATARAM,JUMAT - Akhirnya Indonesia mengalami surplus beras. Menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Departemen Pertanian Ir.Soetarto Alimoeso produksi padi nasional pada puncak musim panen 2008 (Maret-April) mencapai 58,26 juta ton yang berarti surplus sebanyak 1,3 juta ton. "Kita sudah kelebihan 1,3 juta ton beras karena berhasil memproduksi 58,26 juta ton Gabah Kering Giling pada areal panen seluas 12,29 juta hektar dengan tingkat produktivitas 4,73 ton per hektar," kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Departemen Pertanian Ir.Soetarto Alimoeso seperti dikutip Antara, di Mataram, Jumat (23/5).
Ia mengatakan, setelah dikurangi keperluan benih, pakan ternak, penyusutan dan lain-lain, beras yang tersedia dari hasil produksi padi sebanyak 58,26 juta ton GKG itu mencapai 33 juta ton. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 227,78 juta jiwa, jika diasumsikan konsumsi per kapita sebanyak 139,15 kilogram, maka kebutuhan beras untuk konsumsi sebesar 31,69 juta ton. "Dengan demikian tahun ini terjadi surplus beras sebesar 1,3 juta ton. Jumlah itu belum termasuk sisa stok akhir tahun yang ada di gudang Bulog dan di masyarakat," ujarnya.
Menurut Alimoeso, surplus beras itu terjadi karena ada peningkatan produksi padi pada musim panen Maret dan April di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Sulawesi Selatan, NTB, Lampung dan Sumatera Selatan. Luas panen padi di Jawa Barat mencapai 362 ribu hektar, Jawa Tengah 299 ribu hektar, Jawa Timur 298 ribu hektar, Banten 79 ribu hektar, Sulawesi Selatan 151 ribu hektar, NTB 83 ribu hektar, Lampung 123 ribu hektar dan Sumatera Selatan mencapai 163 ribu hektar.
Kenaikan produksi padi itu juga erat kaitannya dengan peningkatan produksi, penambahan luas lahan, dan pengawasan ketat terhadap lahan potensial seluas 1,5 juta hektar. Apalagi, pemerintah terus menggalakkan program subsidi benih dan mengembangkan pupuk organik untuk meningkatkan produksi padi. "Ada kenaikan lima persen dari produksi tahun sebelumnya yang mencapai 54,8 juta ton GKG, sehingga produksi padi mencapai 58,26 ton GKG dan terjadi kelebihan beras 1,3 juta ton," ujarnya.
Dengan demikian, tambah Alimoeso, Indonesia tidak perlu mengimpor beras dari negara manapun karena ketersediaan beras dalam negeri cukup. Peningkatan produksi padi hingga terjadi surplus beras dalam negeri itu juga merupakan bagian dari program menuju swasembada pangan, khususnya beras.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang