Semester II, 10 BUMN Akan Diprivatisasi

Kompas.com - 23/05/2008, 14:47 WIB

JAKARTA,JUMAT - Menteri Negara BUMN Sofyan A. Djalil mengatakan, pihaknya memprioritaskan 10 BUMN untuk dilepas ke pasar melalui penawaran saham perdana (Initial Public Offering /IPO) dan strategic sales (penjualan stragis) pada sementer II tahun ini. "Kita usulkan 36 BUMN untuk diprivatisasi, ada yang melalui strategic sales ada pula yang IPO. Prioritas utama 10 BUMN," kata menteri di Jakarta, Jumat (23/5).

Ia mengatakan, khusus untuk privatisasi melalui  IPO tantangan pasar amat besar karena kondisi pasar sedang lesu saat ini. Namun, menurut dia, untuk BUMN bidang perkebunan (PTPN) masih tetap prospektif meski BUMN yang lain sulit.  "Karena pasar lagi jelek begini, kita tidak bisa melakukan IPO," katanya.

Ke-10 BUMN yang diprioritaskan untuk privatisasi pihaknya berharap akan mendapatkan persetujuan maksimal pada bulan ini agar pelepasan saham itu dapat dilakukan pada semester kedua tahun ini. "Itu supaya bisa menggunakan data keuangan bulan Juni, jadi semakin cepat persetujuan di DPR lebih bagus terutama untuk yang mau go public," katanya.

Terkait persentase saham yang akan dilepas, Menteri belum dapat  memastikan jumlahnya. Namun, pihaknya telah memasukkan usulan ke DPR dan segera mendiskusikan lebih lanjut dengan DPR.   Ia mengatakan, DPR juga telah menyadari bahwa program pengajuan  diskusi ini berjalan lambat. Oleh karena itu, DPR telah membentuk tim khusus dengan menyatukan dua komisi agar proses pembahasan bisa lebih cepat.

Tim dibentuk dari dua komisi yaitu komisi XI dan VI agar dua komisi dapat berdiskusi dalam satu forum. Soal waktu, menteri mengatakan, tidak mungkin melakukan privatisasi pada semester I tahun ini sehingga dimungkinkan akan dilakukan pada semester II 2008. "Saya harap bulan Mei 2008 sudah ada jawaban. Kita sudah buat tim internal BUMN untuk tindak lanjut privatisasi," katanya.

Ia menilai untuk BUMN perkebunan akan lebih mudah diprivatisasi agar dana dapat digunakan untuk eskpansi usaha. Menurut dia, PTPN dalam 10 tahun terakhir ini tidak melakukan ekspansi bisnis karena tidak memiliki cukup ekuitas. "Kalau kita jual 20-30 persen mereka akan mendapatkan dana beberapa triliun sehingga dapat mengembangkan 100-200 ribu hektare lahan baru," katanya.

Untuk rencana jangka panjang, pihaknya belum menentukan sikap tetapi untuk jangka pendek ini menteri mentargetkan bisa mendapatkan dana Rp 2-3 triliun khusus untuk BUMN perkebunan agar dapat mengembangkan lahan baru minimal seluas 100 ribu hektare.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau