Tolak BBM Naik, Tujuh Mahasiswa Mogok Makan

Kompas.com - 23/05/2008, 18:25 WIB

MALANG, JUMAT - Tujuh orang mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Hukum Universitas Brawijaya Malang, Jumat (23/5) melakukan aksi mogok makan di seputar perempatan Institut Teknologi Nasional (ITN), Malang, Jawa Timur. Aksi itu dilakukan untuk menolak rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Tujuh orang mahasiswa yang melakukan aksi mogok makan itu adalah Haru Permadi, Nisita Hapsari, Anggun Indah, Ilham Ardi Nugroho, Erik Fadil, Agni Istifar, dan Ki Agus Mim Saudi. Mereka rencananya akan menggelar mogok makan hingga Minggu (25/5).

Kami rencananya akan menggelar mogok makan hingga Minggu (25/5). Jika tidak ada respon dari pemerintah, bisa jadi mogok makan ini akan berlanjut, tutur humas aksi, Tegar Yusuf Putuhena.

Selain mogok makan, Tegar mengatakan bahwa mereka sejak beberapa waktu lalu sudah mengumpulkan tanda tangan dukungan untuk menolak kenaikan harga BBM. Nanti pada Senin (26/5) mendatang, tanda tangan dukungan menolak kenaikan BBM itu akan kami kirim ke presiden, ujarnya.

Rencana menaikkan harga BBM oleh pemerintah di Malang Raya sempat membuat masyarakat mengalami panic buying, sehingga menyebabkan stok BBM di sejumlah SPBU habis. Hal itu menyebabkan antrean panjang di SPBU yang stok BBM-nya masih tersedia. Kondisi itu masih terus terjadi di Malang.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau