Kebhinekaan itu Memperkaya Sekaligus Menyimpan Potensi Konflik

Kompas.com - 23/05/2008, 19:19 WIB

SEMARANG, KOMPAS - Kebhinekaan, selain memperkaya sebuah bangsa atau komunitas yang beragam, juga menyimpan potensi konflik. Sejarah kerusuhan antaretnis seakan bak siklus yang selalu terulang di Indonesia sehingga pendidikan yang sarat nilai-nilai kebangsaan diperlukan untuk memutus siklus itu.

Hal itu terungkap dalam bedah buku Putri Cina karya Sindhunata di Gedung Study World, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (23/5). Acara yang dipandu sastrawan Triyanto Triwikromo ini menghadirkan para akademisi yang bertindak sebagai pembedah buku, yakni Abdul Djamil, Budi Widianarko, John Titaley dan Widjajanti Dharmowijono.

Novel setebal 304 halaman ini mengisahkan kehidupan Putri Cina di tanah Jawa yang gamang akan identitasnya. Pertanyaan tentang identitas itu muncul manakala ia melihat dan merasakan perbedaan perlakuan terhadap orang-orang seperti dirinya. Orang-orang Tionghoa selalu menjadi korban huru hara politik di Nusantara.

Terakhir, titik kulminasi dari pergumulan identitas itu muncul dalam tragedi Mei 1998. Rumah-rumah warga Tionghoa dibakar massa, sedang perempuan-perempuan Tionghoa diperkosa. Buku ini memang merupakan kenangan sejarah tentang para perempuan yang diperkosa itu. "Saya menulis dari perspektif korban," kata Sindhunata pada acara itu.

Menurut Widjajanti, berbagai pengalaman getir yang menimpa warga Tiongoa tidak bisa lepas dari stereotipi negatif tentang mereka. Orang Tionghoa selalu digambarkan sebagai sosok yang pelit dan suka menumpuk harta. Padahal, kecenderungan seperti itu ada di setiap etnis.

Pengajar dari Universitas Kristen Satyawacana Salatiga, John Titaley, mengatakan, masalah yang dihadapi Putri Cina sebagaimana terpapar dalam novel itu akan selalu menjadi persoalan bagi Indonesia. Padahal, ujarnya seperti menginbgatkan semua pihakl, dalam konteks identitas, Indonesia adalah sebuah kenyataan baru sehingga ketika berbicara mengenai manusia Indonesia, identitas pribumi maupun non pribumi tidak lagi relevan.

Menurut dia, jalan untuk mencegah berulangnya sejarah kekerasan di Indonesia adalah melalui pendidikan yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Pendidikan adalah satu-satunya jalan. Jika tidak, sejarah Putri Cina akan selalu terulang, kata Titaley. (A09)   

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau