SEMARANG, KOMPAS - Kebhinekaan, selain memperkaya sebuah bangsa atau komunitas yang beragam, juga menyimpan potensi konflik. Sejarah kerusuhan antaretnis seakan bak siklus yang selalu terulang di Indonesia sehingga pendidikan yang sarat nilai-nilai kebangsaan diperlukan untuk memutus siklus itu.
Hal itu terungkap dalam bedah buku Putri Cina karya Sindhunata di Gedung Study World, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (23/5). Acara yang dipandu sastrawan Triyanto Triwikromo ini menghadirkan para akademisi yang bertindak sebagai pembedah buku, yakni Abdul Djamil, Budi Widianarko, John Titaley dan Widjajanti Dharmowijono.
Novel setebal 304 halaman ini mengisahkan kehidupan Putri Cina di tanah Jawa yang gamang akan identitasnya. Pertanyaan tentang identitas itu muncul manakala ia melihat dan merasakan perbedaan perlakuan terhadap orang-orang seperti dirinya. Orang-orang Tionghoa selalu menjadi korban huru hara politik di Nusantara.
Terakhir, titik kulminasi dari pergumulan identitas itu muncul dalam tragedi Mei 1998. Rumah-rumah warga Tionghoa dibakar massa, sedang perempuan-perempuan Tionghoa diperkosa. Buku ini memang merupakan kenangan sejarah tentang para perempuan yang diperkosa itu. "Saya menulis dari perspektif korban," kata Sindhunata pada acara itu.
Menurut Widjajanti, berbagai pengalaman getir yang menimpa warga Tiongoa tidak bisa lepas dari stereotipi negatif tentang mereka. Orang Tionghoa selalu digambarkan sebagai sosok yang pelit dan suka menumpuk harta. Padahal, kecenderungan seperti itu ada di setiap etnis.
Pengajar dari Universitas Kristen Satyawacana Salatiga, John Titaley, mengatakan, masalah yang dihadapi Putri Cina sebagaimana terpapar dalam novel itu akan selalu menjadi persoalan bagi Indonesia. Padahal, ujarnya seperti menginbgatkan semua pihakl, dalam konteks identitas, Indonesia adalah sebuah kenyataan baru sehingga ketika berbicara mengenai manusia Indonesia, identitas pribumi maupun non pribumi tidak lagi relevan.
Menurut dia, jalan untuk mencegah berulangnya sejarah kekerasan di Indonesia adalah melalui pendidikan yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Pendidikan adalah satu-satunya jalan. Jika tidak, sejarah Putri Cina akan selalu terulang, kata Titaley. (A09)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang