Mahasiswa UKI "Sweeping" Mobil Pelat Merah

Kompas.com - 23/05/2008, 21:53 WIB

JAKARTA, JUMAT - Unjuk rasa mahasiswa UKI di Cawang, jaktim, yang menolak kenaikan harga BBM, Jumat (23/5) malam berupaya menyandera sebuah mobil kijang kapsul pelat merah berwarna biru tua yang melintas di depan kampus.

Mereka berdiri di atas kap mobil sambil memukul-mukul bodi mobil. Para mahasiswa itu berdebat dengan polisi. Mahasiswa menginginkan mobil tersebut masuk ke kampus. Namun, polisi mencegah dan menyuruh sopir kijang tidak menuruti permintaan mahasiswa. Ketegangan ini membuat sopir kijang tak bisa berbuat apa-apa dan terjebak di tengah kemacetan. Akibat perbuatan mahasiswa, mobil kijang tersebut terlihat lecet-lecet.

Sebelum menduduki mobil kijang, Humas aksi unjuk rasa, Jefri Silalahi, mengatakan pihaknya memang mau men-sweeping mobil pelat merah. Pasalnya pelat merah simbol pemerintah.

Para mahasiswa UKI ini akan tetap memenuhi jalan selama pemerintah belum membatalkan kenaikan harga BBM. Ketika ditanya bukankah aksi menutup jalan ini mengganggu rakyat. "Yang mengganggu rakyat itu kenaikan BBM, kami hanya ingin menunjukkan sikap dan membantu rakyat," tandas Jefri.

"Kita lihat saja, mana yang lebih kuat, rakyat atau pemerintah," tambah Jefri.

Apa rencana mahasiswa dengan menyandera mobil kijang? Jefri dengan enteng menjawab, "Dikempesin, disandera, pokoknya direkrut dulu."

Sementara mahasiswa tetap ngotot menyandera mobil kijang, pada jam yang sama Menkeu Sri Mulyani mengumumkan kenaikan harga BBM di gedung Depkeu. Kenaikan premium dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter, solar dari Rp 4.300 menjadi Rp 5.500 per liter, minyak tanah dari Rp 2.000 menjadi Rp 2.500 per liter.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau