Banyak Jalur Masuk PTN Eks IKIP

Kompas.com - 24/05/2008, 00:37 WIB

Jakarta, kompas - Sejumlah perguruan tinggi negeri eks IKIP menyediakan berbagai jalur penerimaan mahasiswa baru. Selain jalurnya beragam, biaya yang dikenakan kepada calon mahasiswa baru relatif lebih murah dibandingkan dengan perguruan tinggi negeri lainnya.

Universitas Negeri Jakarta (UNJ), misalnya, membuka jalur penerimaan mahasiswa baru lewat penelusuran minat dan kemampuan (PMDK), ujian masuk bersama (UMB), dan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN).

Jalur PMDK diberikan kepada siswa dari SMA yang diundang UNJ dengan kuota 10 persen dari kapasitas kursi. Adapun UMB mendapat kuota 30-35 persen dari kapasitas kursi dan lainnya melalui SNMPTN serta penerimaan mahasiswa baru (Permaba).

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung menyediakan jalur PMDK, ujian masuk (UM) UPI, dan SNMPTN. Menurut Kepala Humas UPI Dutha Andika di Bandung, Jumat (23/5), perbedaan biaya masuk calon mahasiswa baru melalui ketiga jalur tersebut hanya pada dana pengembangan lembaga (DPL).

Jika masuk lewat jalur UM UPI, biaya DPL dikenakan Rp 3 juta-Rp 15 juta sekali bayar, tergantung jurusannya. Adapun pada PMDK dan SNMPTN, DPL tidak ditentukan besarnya, sesuai kesukarelaan, minimal Rp 1 juta.

Di luar biaya ini, mahasiswa baru dikenakan biaya peningkatan mutu akademik (BPMA) sebesar Rp 2,5 juta sekali bayar dan sumbangan penyelenggaraan pendidikan Rp 900.000 per semester, sama untuk semua jurusan.

Tahun 2008 ini UPI menyediakan kuota 2.415 kursi untuk SNMPTN, 1.065 untuk PMDK, dan 1.500 kursi untuk UM-UPI.

Permaba lebih mahal

Pembantu Rektor I UNJ, Zainal Rafli, mengatakan, mahasiswa yang masuk melalui jalur SNMPTN, UMB, dan PMDK pada semester pertama membayar Rp 2,5 juta-Rp 4,6 juta, sedangkan untuk selanjutnya per semester membayar Rp 500.000-Rp 2,6 juta.

”UNJ tidak menerapkan pembayaran biaya kuliah berdasarkan penghasilan orangtua,” kata Zainal Rafli.

Setiap semester mahasiswa membayar SPP yang dipatok Rp 400.000 dan dana pengembangan program studi yang besarnya berbeda setiap fakultas, dengan kisaran Rp 100.000-Rp 1,5 juta.

Adapun mahasiswa yang masuk melalui jalur Permaba UNJ, mahasiswa menanggung biaya kuliah yang lebih mahal, hampir dua kali lipat dari biaya masuk lewat jalur SMPTN.

Secara terpisah, Pembantu Rektor I Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rochmat Wahab, mengatakan, untuk menjaring calon mahasiswa yang lebih berkualitas, UNY mulai tahun 2008 juga membuka jalur seleksi mandiri dalam penerimaan mahasiswa baru.

Tahun ini UNY menerima 40 persen mahasiswa baru dari jalur SNMPTN, 35 persen dari jalur seleksi mandiri, dan 25 persen dari jalur Penelusuran Bibit Unggul (PBU).

Seleksi mandiri ini bertujuan memberi kesempatan bagi mereka yang ingin masuk UNY sebagai universitas pilihan pertama. Selain materi akademik, pada Seleksi Mandiri juga diberikan tambahan materi tes sesuai program studi masing-masing.

Sebagai universitas eks IKIP, menurut Wahab, UNY menjunjung tinggi komitmen terhadap moralitas, yang ditumbuhkan menjadi kekuatan universitas. “Nilai-nilai keteladanan, sopan santun, etika, dan perilaku terpuji yang ditanamkan pada calon-calon guru selama belajar di IKIP tetap kami terapkan,” ujarnya. (ELN/JON/ DYA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau