Harga Beras dan Minyak Goreng Naik

Kompas.com - 25/05/2008, 17:21 WIB

 


TEGAL, MINGGU - Harga beras dan minyak goreng di Kota Tegal kembali naik, menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Hal itu menyebabkan lesunya penjualan. Sejumlah pedagang mengaku terbebani dengan kondisi tersebut, sebab mereka harus menambah modal usaha agar volume dagangan tidak berkurang.

Mahrudi (30), pedagang beras di Pasar Induk Beras Martoloyo, Kota Tegal, Minggu (25/5) mengatakan, harga beras kembali naik Rp 200 per kilogram dalam dua hari terakhir. Harga beras C4 kualitas bagus naik dari Rp 4.900 menjadi Rp 5.100 per kilogram, sedangkan beras C4 kualitas sedang naik dari Rp 4.600 menjadi Rp 4.800 per kilogram.

Menurut dia, kenaikan harga beras lebih disebabkan naiknya harga BBM. "Biaya angkut beras juga naik sekitar 30 persen. Sebelumnya biaya truk untuk mengangkut satu kilogram beras hanya Rp 100, tetapi sekarang menjadi Rp 130 per kilogram," ujarnya.

Hingga saat ini, pasokan beras masih lancar. Petani di sejumlah daerah sudah mulai panen, seperti di Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes, di Kecamatan Wangon, Banyumas, dan di Grobogan.

Akibat naiknya harga beras, permintaan beras dari pasar lokal turun hingga mencapai 60 persen. Permintaan dari luar daerah, seperti Jakarta dan Indramayu relatif masih stabil.

Mahrudi mengatakan, hingga bulan Agustus, diperkirakan harga beras tidak akan naik. Pasalnya, pasokan beras meningkat, seiring berlangsungnya panen pada musim tanam kedua. Namun setelah bulan tersebut, harga beras diperkirakan akan kembali naik.

Saat itu, pedagang beras akan berlomba-lomba menyerap beras di pasaran, untuk persediaan selama musim paceklik. "Selama ini, tren harga beras akan mengikuti harga premium, sehingga diperkirakan harga beras akan mencapai angka Rp 6.000 per kilogram pada saat itu," ujar Mahrudi.

Hanifah (32), pedagang sembako di Pasar Pagi Kota Tegal mengatakan, dalam dua hari terakhir, harga minyak goreng naik Rp 500 per kilogram. Saat ini, harga minyak goreng curah kualitas pertama mencapai Rp 15.500 per kilogram, sedangkan harga minyak goreng curah kualitas kedua Rp 11.500 per kilogram.

Selain membebani konsumen, kenaikan harga tersebut juga membebani pedagang. Ia harus menambah modal, agar volume usahanya tidak berkurang. Padahal, keuntungan yang diperoleh tetap, bahkan cenderung turun.

Pasalnya, upah buruh angkut yang biasa membawakan barang juga naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.500 per orang per angkut. Penjualannya juga turun, akibat menurunnya daya beli masyarakat.

Menurut dia, hingga saat ini harga bahan kebutuhan lain, seperti gula pasir dan telur masih stabil. Meskipun demikian, pedagang mulai bersiap menghadapi kenaikan harga barang kemasan. Sejumlah distributor barang kemasan, seperti sabun dan mie instan sudah memberi tahu bahwa harga produk mereka akan kembali naik awal bulan depan. (WIE)  

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau