BANDUNG, MINGGU -- Untuk menghindari kecemburuan sosial akibat pembagian bantuan langsung tunai atau BLT yang tidak merata, beberapa ketua RW dan RT menghimbau warga untuk menyisihkan uang BLT. Uang hasil sumbangan sukarela tersebut kemudian dibagikan kepada rumah tangga miskin yang belum masuk dalam daftar penerima BLT.
Melihat sekitar 270 rumah tangga di daerahnya yang hidup di bawah garis kemiskinan, Dedi Suryaman (57) ketua RW 05, Kelurahan Malabar, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung akhirnya berinisiatif untuk menghimbau beberapa warga untuk menyisihkan sebagian uang BLT mereka.
Tadi pagi, beberapa warga bertanya mengapa keluarga mereka tidak masuk dalam daftar penerima BLT padahal mereka s angat kekurangan. Berdasarkan kesepakatan, tiap-tiap rumah tangga penerima BLT akhirnya menyisihkan uang sebesar Rp 50.000 namun sifatnya sukarela, ungkap Dedi, Minggu (25/5) di Bandung.
Keputusan ini terpaksa dilakukan Dedi karena ia menyadari sebagian besar rumah tangga di tempatnya adalah keluarga miskin. Menurut Dedi, dari sekitar 370 rumah tangga di RW 05, Kelurahan Malabar, hanya terdapat 100 keluarga yang mampu dan sisanya adalah rumah tangga miskin yang tidak memiliki sumber mata pencaharian menentu.
Dedi memperkirakan, dengan jumlah penerima BLT sebanyak 111 RTS, maka uang sumbangan sukarela yang terkumpul sekitar Rp 5,5 juta. Uang tersebut kemudian dibagikan kepada sekitar 270 rumah tangga miskin di RW 05.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun (BPS) 2005, jumlah rumah tangga sasaran di tempat kami sebanyak 121 RTS dan saat ini hanya tinggal 111 RTS karena sebagian sudah pindah dan meninggal dunia. "Kami bingung mengajukan RTS baru yang hanya dibatasi hingga 10 RTS, padahal ada 270 rumah tangga miskin di RW ini," kata Dedi.
Setelah melakukan pembicaraan bersama dengan warga, Enok Suprihatin (42), Ketua RT 01/RW 04, Kelurahan Cicadas, Kecamatan Cibeunying Kidul akhirnya memberikan kebijakan untuk mengajak warganya menyisihkan uang sebesar Rp 50.000 kepada 11 RTS di RT 01 yang menerima BLT. "Di tempat kami, masih ada 20 rumah tangga miskin lain yang juga berhak mendapatkan bantuan. Karena itu, keluarga yang mendapatkan BLT menyisihkan sebagian uang mereka untuk disumbangkan," ujarnya.
Enok berharap, Pemerintah melakukan pendataan baru yang lebih akurat dan adil. Sehingga, pembagian bantuan tidak menimbulkan kecemburuan sosial atau bahkan konflik di antara masyarakat. (A10)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang